DEMAK, Joglo Jateng – Tawasul Akbar yang diikuti oleh Jemaah Thoriqot As-Syahadatain kembali digelar. Sebelumnya, pengajian Takbir Akbar ini sempat terhenti dua tahun karena pandemi.
Thoriqot As-Syahadatain merupakan jemaah pengajian yang didirikan oleh Abah Umar atau yang mempunyai nama asli Sayyid Umar yang berasal dari Cirebon. Ciri dari Thoriqot dan pengikut Abah Umar ini mudah dikenali dari pakaiannya. Umumnya, saat ibadah anggota diwajibkan memakai kain/jubah putih khas pakaian orang Arab.
Salah satu Jemaah Thoriqot As-Syahadatain, Toni, mengaku mengikuti Tawasul Akbar ini setiap tahun. Lelaki asal Jepara ini mengaku antusias dengan digelarnya kembali kegiatan yang dilakukan setiap hari Senin setelah tanggal 15 Nisfu Sya’ban dalam kalender Islam ini.
“Acaranya setelah sholat Dzuhur, kita berjamaah dilanjutkan dengan Maulidan. Tidak lama mungkin hanya satu jam” ungkapnya.
Senada, Takmir Masjid Agung Demak, Abdullah Syifa’ mengatakan, acara tawasul Thoriqot As-Syahadatain yang berpusat di Cirebon ini sudah secara rutin selalu dilaksanakan di Masjid Agung Demak. Syifa’ menambahkan, jemaah yang mengikuti thoriqoh ini merupakan pengusaha-pengusaha dari berbagai daerah.
“Para Habib nanti juga datang, bis-bis nanti datang banyak dari Cirebon. Setahun sekali diadakan disini,” ungkapnya.
Diketahui, penamaan Thoriqot Asy-Syahadatain tersebut berkaitan dengan ajaran Abah Umar yang menekankan tentang makna dua kalimat syahadat dan implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Syahadat adalah dasar dan inti ajaran Islam yang justru banyak dilupakan oleh umat Islam.
Dinamakan juga dengan Thoriqot Syahadat Shalawat karena setiap selesai shalat fardhu, Abah Umar mengajarkan kepada murid-muridnya untuk membaca dua kalimat syahadat. Diiringi dengan shalawat. Bacaan syahadat shalawat ini dibaca tiga kali (wasallam-wasallam-wasallim).
Alasan dilakukannya Tawasul di Masjid Agung Demak tidak jauh karena cerita di masa lampau. Dimana Kerajaan Demak dan Kerajaan Cirebon yang sama-sama memiliki latar belakang sebagai Kesultanan Islam sehingga memiliki semangat kemajuan dan perkembangan yang harmonis.
Salah satu bukti fisik hubungan keduanya adalah pembangunan Masjid Agung dan Keraton Cirebon yang dibantu oleh Demak. Sementara itu, anggota jemaah yang mengikuti pengajian Habib Umar berasal dari berbagai daerah. Di antaranya Panguragan, Kuningan, Majalengka, Indramayu, dan banyak lagi. (cr3/ern)










