TERJUN ke dunia atletik sejak SMP dan meraih berbagai prestasi di cabang olahraga atletik, Nurul Qomar kini berhasil mendirikan wadah untuk para pegiat olahraga lari dengan menciptakan Cross Limit Training. Cross Limit bertujuan memberikan pemahaman pada para pelari tentang cara lari yang baik dan benar. Serta bersedia memfasilitasi, baik pelari pemula maupun atlet yang siap untuk bertanding.
Qomar sapaan pemuda yang kini menetap di Yogyakarta, menuturkan, saat memasuki bangku perkuliahan, ia mengambil jurusan Kepelatihan Olahraga, Fakultas Ilmu Olahraga Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Di situ dirinya mulai mewujudkan impiannya menjadi pelatih lari, karena sesuai dengan ilmu yang didalaminya di perkuliahan.
“Secara pribadi, saya terjun di lari karena mengikuti jejak dari ke dua kakak saya, yang merupakan atlet lari. Sehingga, saya ikut menekuni lari bersama kakak saya sebagai atlet atletik. Awalnya ikut lari buat have fun saja, akhirnya ikut kejuaraan dan bisa menang mendapat penghargaan. Kemudian saya menemukan kenyamanan itu dan dari lari saya bisa melanjutkan kuliah,” paparnya saat diwawancarai Joglo Jogja di Yogyakarta, Selasa (17/1/23).
Pemuda kelahiran Pekalongan itu menambahkan, dalam membentuk Cross Limit, ia tidak sendirian. Namun ada temanya yang ikut membangun dan merintisnya dari awal, yaitu Datu Agung.
“Jadi dia itu temen deket saya dari kuliah dan saat menjadi atlet bareng semasa kuliah di UNY. Kemudian kami memiliki visi yang sama di dunia olahraga khususnya lari,” tuturnya.
Lebih lanjut, bersama partner, ia sering membahas konsep vendor yang akan dibangunnya. Sehingga bisa menjadi wadah untuk melatih para pegiat lari yang benar-benar ingin mendalami olahraga itu.
“Akhir tahun 2020 saya dan Agung sering gobrol kenapa kita tidak membuat wadah untuk lari, sedangkan di kota besar sudah ada. Saat itu kita memikirkan bahwa di Yogyakarta belum ada wadah untuk mendalami lari dan saat itu euforia lari juga sangat tinggi. Sehingga di awal tahun 2021 kita bentuklah Cross Limit,” tuturnya.
Pemuda kelahiran 15 Januari 1994 itu mengungkapkan, dengan Cross Limit harapannya bisa menjadi sarana bagi orang awam untuk mengenal basic lari. Sehingga mereka bisa latihan dengan benar dan terhindar dari cidera dan aware dengan olahraga.
“Untuk saat ini client Cross Limit sendiri sudah ada 50 lebih. Di luar itu ada yang ambil paket beberapa saat, seperti grup yang mencapai 20 orang, hanya buat persiapan race (lomba) saja. Jadi waktunya hanya satu sampai dua bulan latihan,” imbuhnya.
Lanjutnya, untuk waktu latihannya pihaknya menyesuaikan client dan jadwal latihan yang lainnya. Waktu latihan yang biasa diambil pagi dan sore. Untuk tiap client biasanya latihan dengan pendampingan, dua kali seminggu. Kemudian diberi program mandiri untuk melakukan latihan sendiri di rumah, dengan ada report dan nantinya dievaluasi.
“Sebelum bergabung di Cross Limit kita tanya dulu tujuannya apa. Jadi saya tau level kemampuan mereka ada di mana dan nantinya ia buat program yang sesuai,” ungkapnya.
Ia berharap Cross Limit bisa berkembang di beberapa daerah seperti Jakarta, dan Bandung. Akan tetapi saat ini ia bersama rekannya masih melakukan penguatan bisnisnya dulu di Yogyakarta. Sehingga kelak bisa berkembang Cross Limit di daerah lainnya.
Qomar menuturkan, kedepan ia ingin punya klub olahraga nonprofit untuk cabang atletik. Hal itu sebagai sumbangsihnya membangun olahraga atletik. “Nantinya kita ingin punya klub atletik untuk calon atlet yang berbakat, dan itu free. Kita ingin memfasilitasi, memberikan pelatihan serta sarana prasarana yang baik bagi kemajuan prestasi mereka. Semoga itu bisa terlaksana untuk tahun ini atau tahun depan,” pungkasnya.
Untuk pendaftaran Cross Limit, bisa melalui Instagram di @crosslimittraining, dengan mengirim pesan ataupun lewat email. Pihaknya juga memberi free trail juga dan biasanya client coba dulu, ketika cocok pilih paket latihannya. (cr4/all)










