BERASAL dari keluarga yang memiliki darah seni, seperti ayahnya yang sebagai pemain ketoprak dan kakeknya sebagai Wiyoga, membuat Cintya Agita Arum Sari terjun ke dunia tari untuk lebih bisa melestarikan kesenian tradisional yang telah ada sejak dahulu.
Cintya panggilan akrabnya mengatakan, pertama kali terjun ke dunia tari saat dirinya duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Karena ingin mengembangkan dunia tari tradisional saat SMP, dirinya terus berlatih secara otodidak dan terinspirasi oleh Didi Nini Thowok.
“Suka tari karena ingin mengembangkan tradisi. Karena lingkungan saya juga berasal dari dunia seni, terutama ayah,” ujarnya saat diwawancarai Joglo Jogja, Minggu (12/2/23).
Wanita kelahiran 11 Agustus 1999 ini menambahkan, adapun beberapa tari tradisional yang ia kuasai seperti tari persembahan dan tari klasik. Mulai dari Golek Ayun Ayun, Salam Pambuko, Ayun Ayun Jugag, Gambyong Pareanom, Sekar Pudjiastuti
“Dari tari ini saya sudah mengisi berbagai kegiatan event seperti di wedding, hotel, wisuda, dan pernah menari saat ulang tahun di kabupaten Sleman ke-101,”ungkapnya.
Meski demikian, ada beberapa kesulitan yang dirinya temui saat melakukan tarian. Karena dalam tari sendiri terdapat wiroso, wiroga dan wiromo yang diperlukan. “Kita lebih sulit memahami tempo dalam instrumen musik serta penghayatan. Karena pengembangan rasa untuk musik itu lebih susah,” tuturnya.
Wanita yang sedang menempuh semester akhir perkuliahan ini menambahkan, dirinya juga memberikan bimbingan kepada pada siswa di SD Unggul Widodo, SDIT Baitul Salam 2, dan SD Negeri Watu Adeg. Dengan dirinya memberikan ilmu kepada murid, dia berharap bisa melestarikan tradisi sedini mungkin
“Semoga untuk generasi selanjutnya harus bisa menjunjung budaya sendiri. Karena generasi sekarang lebih senang budaya luar daripada budaya sendiri,” imbuhnya. (cr4/abd)










