Figur  

Bambang RSD, Fotografer Model yang Mulanya Jurnalis

Bambang RSD
Bambang RSD. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

SOSOK Bambang RSD sudah dikenal sebagai fotografer oleh khalayak luas di Kota Semarang. Mengawali karir dari seorang penulis lepas atau jurnalis kini semakin eksis sebagai fotografer.

“Awalnya tahun 95 mulai belajar foto, awalnya jadi penulis lepas, terus saya kerja di salah satu media cetak, tapi sebagai wartawan bukan fotografer,” ucapnya, belum lama ini.

Bambang mengaku, kiprahnya sebagai seorang jurnalis mengantarkannya hingga menekuni dunia fotografi. Bahkan, ia belajar fotografi untuk pertama kali bukan dengan fotografer profesional, melainkan dengan rekan sesama wartawan.

“Akhirnya rasa penasaran saya jadi lebih gede karena yang ngajarin saya itu wartawan, bukan fotografer,” imbuhnya.

Sebab, baginya kemampuan fotografi seorang wartawan itu tidak sedalam fotografer profesional. Sehingga timbul rasa penasaran dalam dirinya untuk belajar lebih banyak tentang fotografi.

“Orang taunya kan wartawan itu pinter motret, padahal wartawan itu kan pinter nulis. Kalau fotografer itu kan kerjanya motret untuk melengkapi tulisan wartawan,” tandasnya.

Meskipun dunia fotografi pada saat itu hanya untuk kalangan menengah ke atas saja, hal tersebut tak lantas menyurutkan niatnya untuk terus belajar. Bermodal kamera Pentax K1000 yang diperoleh dari hasil Ibunya menjual rumah, ia tidak pantang menyerah untuk terus belajar mengambil foto.

“Kamera pertama saya Pentax K1000, itu kamera analog (film). Itupun dengan harga yang sebetulnya ga begitu mahal, tapi ekonomi kita sulit hampir tak terbeli juga, bisa beli itu juga karena pindah rumah, jual rumah, kemudian dikasi uang buat beli kamera. Kalau ga seperti itu ga akan terbeli,” ungkap pria yang identik dengan rambut panjang yang selalu dikuncirnya itu.

Keputusannya untuk berkecimpung di dunia fotografi model tak pernah ia sesali. Pasalnya fotografi model saat itu belum terlalu banyak dikenal orang. Hal tersebut lantas membuatnya menonjol dan mudah dikenali orang-orang.

Ia menuturkan bahwa pada saat itu fotografer model memang sangat jarang. Meskipun dapat dihitung jari, fotografer model pada saat itu belum memiliki kemampuan yang mumpuni.

“Masih jarang (jumlah fotogarfer model). Meskipun ada kemampuan mereka itu belum dilevel yang bisa dilihat, karena belajar untuk itu sulit dan mahal, menumbuhkan model juga sulit,” tandasnya.

Meskipun namanya sudah terkenal, tak membuat Bambang berhenti belajar. Bahkan saat ini dirinya sedang menekuni bidang ilmu lainnya.

“Yang penting itu harus belajar dan belajar, jangan pernah berhenti belajar. Apalagi sekarang ada aplikasi-aplikasi yang bisa diakses. Sekarang saya belajar ngedit video, ada kepuasaan buat belajar mengedit video,” tutupnya. (luk/gih)