Budaya  

Ingin Budaya Jawa Terus Lestari, Remaja Geblek Bersastra Berikan Ruang Belajar Bahasa Jawa

pelatihan sinau sastra Regas
UNJUK KEBOLEHAN: Salah satu peserta pelatihan sinau sastra Regas saat membacakan geguritan, di salah satu cafe di Kabupaten Kulonprogo, belum lama ini. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

BERAWAL dari keresahan sulitnya mendapatkan ruang untuk belajar bahasa dan sastra Jawa, Tri Wahyuni bersama teman-teman penggiat sastra budaya Jawa membentuk komunitas Remaja Geblek Bersastra (Regas) di Kabupaten Kulonprogo. Dengan itu, ia ingin lebih mengenalkan serta melestarikan budaya Jawa agar tidak punah tergerus perkembangan zaman. Khusunya untuk anak-anak muda sekarang.

Salah satu kegiatan yang telah digagas oleh Regas yaitu sinau sastra. Di sini Regas memberikan ruang kepada anak-anak serta remaja untuk belajar sastra dan budaya Jawa. Mereka dibimbing oleh para pengajar ataupun mentor yang telah berpengalaman mengikuti sejumlah lomba sastra dan budaya Jawa. Para peserta pun dapat mengikuti secara gratis.

“Semua yang kita lakukan atas dasar keinginan untuk bebagi ilmu dan ternyata banyak anak-anak yang mau ikut belajar. Terutama mereka yang akan mengikuti lomba sastra Jawa. Kita bimbing untuk bisa menjadi juara serta mampu menularkan ilmunya kepada generasi selanjutnya,” tutur Tri Wahyuni, Selasa (16/5/23).

Dalam kegiatan yang dilaksanakan satu pekan sekali ini, ada 30 peserta dari usia SD hingga SMP yang hadir untuk belajar. Melalui kegiatan tersebut, komunitas Regas mampu menjadi magnet untuk anak muda ikut bergabung di dalamnya. Sebab, dari 10 anggota saat ini, Regas memiliki 170 peserta yang aktif belajar dan membina anak-anak di lingkungan mereka.

Lebih lanjut, dirinya berharap komunitas Regas ini bisa menjadi contoh masyarakat Jawa di daerah lain untuk mau nguri-uri budaya dan bahasa Jawa. Sehingga semuanya akan tetap bertahan dari gerusan perkembangan zaman dan budaya lainnya.

Wong jawa aja lali jawane. Itu kata yang selalu jadi motivasi kami untuk terus mengenalkan budaya Jawa kepada anak-anak. Poin pentingnya di sini kita ingin mengenalkan, dan mengembangkan minat bakat mereka dalam sastra Jawa untuk bisa terus dilestarikan,” tuturnya. (fan/gih)