Film Hati Suhita, Kisahkan Drama Perjodohan di Pondok Pesantren

pemeran film Hati Suhita
FOTO BERSAMA: Para pemeran film Hati Suhita saat menghadiri roadshow peluncuran film di XXI Cinema DP Mall Semarang, Senin (22/5). (FADILA INTAN QUDSTIA/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Film Hati Suhita yang menceritakan tentang kisah perjodohan keluarga pondok pesantren akan dirilis secara serentak seluruh bioskop di Indonesia pada Kamis (25/5) mendatang. Sinema ini mengisahkan perjuangan Alina Suhita yang pantang menyerah untuk mendapatkan cinta suaminya sendiri, Abu Rayyan Albirruni atau Gus Birru. Sebab, sebelum keduanya menikah, Gus Birru telah memiliki hubungan dengan Ratna Rengganis.

Kisah dalam film ini diangkat dari novel yang ditulis oleh Khilma Anis. Alur cerita tentang perjodohan di pondok pesantren ini, kata Khilma, bukan dari pengalaman pribadinya. Namun, dirinya memang memiliki banyak teman dengan putri-putri kiai.

“Bukan dari pengalaman pribadi saya memang banyak berteman dengan putri-putri kiai yang memang di dalam pesantren kisah perjodohan itu ada yang abadi. Jadi saya bawakan tradisi perjodohan yang positif,” ucapnya saat ditemui Joglo Jateng pada roadshow peluncuran film Hati Suhita di XXI Cinema DP Mall, Senin (22/5).

Ia menjelaskan, Hati Suhita merupakan salah satu karya sastra yang menarasikan perempuan, sekaligus menggiring pembaca untuk melihat kemegahan pesantren dengan hiruk-pikuk domestifikasi rumah tangga. Relasi pesantren dengan dunia luar juga dipotret secara apik melalui hadirnya aktivis perempuan, Ratna Rengganis.

Hati Suhita membicarakan kekuatan cinta, relasi laki-laki dengan perempuan dalam kehidupan pesantren modern, juga pesantren dengan transformasi pengembangannya. Dengan begitu, pesan tersirat yang disampaikan Khilma dalam novelnya adalah bagaimana seharusnya konsep cinta dihadirkan.

Yakni dengan gambaran bagaimana Alina Suhita tidak begitu saja menyerah dengan keadaan awal pernikahan. Dimana Gus Birru secara terang-terangan menyatakan tidak mencintai Alina.

Khilma menuturkan, dalam mengangkat karakter perempuan Jawa dengan suana yang modern dan menyenangkan tidaklah mudah. Menurutnya, selama ini film-film tentang wanita Jawa identik dengan suasana klasik.

Sementara itu, pemeran Gus Birru, Omar Daniel menjelaskan kesulitannya dalam memerankan tokoh utama di dalam film ini. Dirinya harus mempelajari bahasa Jawa Timur yang bukan bahasa daerah asalnya, yakni Jawa Tengah.

“Selain itu saya kan bukan berlatar belakang pondok pesantren tapi saya harus mengerti betul bagaimana menjadi seorang gus (putra kiai). Bahkan dalam memerankan peran ini saya juga sempat research dan mengobrol langsung dengan gus,” ungkapnya. (cr7/mg4)