Rayakan 16 Tahun Berkarya, Kotak Rilis Album “Identitas”

Band Kotak
KOMPAK: Band Kotak saat akan konser kembali di tengah pandemi Covid-19. (ISTIMEWA)

JAKARTA – Band Kotak merayakan 16 tahun berkarya dengan meluncurkan album “Identitas”, belum lama ini. Proses pembuatannya murni digarap para personel, mulai dari konsep, lagu, tempat studio rekaman hingga kemasan album.

Sesuai namanya, “Identitas” menyuguhkan identitas asli Kotak yang mengerjakan semuanya tanpa campur tangan kreatif pihak ketiga alias “do-it-yourself”.

“Setelah beberapa tahun Kotak berkarya, kami banyak ambil ilmu dari orang-orang, lalu kita bisa buktikan sudah siap berkarya sesuai dengan identitas kita, makanya nama albumnya ‘Identitas’,” kata Swasti Sabdastantri (Chua) pemain bass Kotak, dalam konferensi pers daring, baru-baru ini.

Album yang digarap selama dua tahun ini direkam di Yogyakarta. Meski memakan lebih banyak waktu, sebab mereka harus menyempatkan diri untuk pergi ke Yogyakarta demi album, menurut Chua, kota ini membuat ide-ide mengalir deras. “Di Jakarta idenya mandek, di Yogyakarta lancar banget,” tutur Chua.

Mario Marcella (Cella), gitaris Kotak, mengatakan sekarang memang sudah saatnya mereka memperlihatkan identitas Kotak dengan menjadi produser album tanpa melibatkan orang lain. “Ini penggarapan album tersantai, betul-betul dipikirin sesuai identitas.”

Mengingat semuanya dilakukan tanpa campur tangan orang lain, Chua menuturkan ada cerita-cerita lucu di sela pembuatan. Salah satunya adalah distraksi akibat hasrat belanja yang melanda dirinya dan Tantri Syalindri Ichlasari sang vokalis. Semua terasa lebih bebas karena mereka mengatur jadwal sendiri.

“Terhambat ibu-ibu, aku dan Tantri lebih milih belanja di Beringinharjo karena kita atur waktunya sendiri,” celoteh Chua.

Tantri menuturkan, album “Identitas” punya tempat spesial di hatinya. Karena Kotak bisa puas mencurahkan ide setiap anggota di dalamnya. Mereka bisa bebas mengeksplorasi semua aspek sesuai keinginan tanpa terbentur pertimbangan dari pihak lain. “Kita sayang banget sama album ini karena mengolah dari awal, eksplorasinya dalam banget,” ujar Tantri.

Dari sepuluh lagu dalam album, “Di Atas Cinta” menjadi single andalan yang ditulis Tantri sebagai cerminan kehidupannya sebagai orangtua. Lagu pertama yang direkam untuk “Identitas” ini mengingatkan para personel Kotak atas perjuangan orangtua dalam membesarkan mereka.

“Kita bertiga kompak membayangkan lagu ini tentang orangtua, keluarga, anak,”tutur Chua.

Cella menambahkan, “Di Atas Cinta” membuatnya membayangkan kerepotan orangtua ketika mengurus dirinya saat kanak-kanak. “Mendengarkan lagu itu kayak flashback dosaku banyak banget sama orangtua,” kata Cella.

Ketiganya sepakat, perubahan status menjadi orangtua membuat perbedaan signifikan terhadap lirik yang mereka ciptakan. Fase gundah gulana saat jatuh cinta telah dilewati, berganti dengan cinta seutuhnya kepada keluarga dan buah hati, sebagai seorang istri atau suami. (ara/yos)