Petani Garam Belum Bisa Menggarap Lahan

Tono, petani garam di Desa Kalianyar Kecamatan Kaliori
SIAPKAN: Tono, petani garam di Desa Kalianyar Kecamatan Kaliori sedang membersihkan lahanya, belum lama ini. (SHOFWAN ZAIM / JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Petani garam di Kabupaten Rembang sampai pertengahan Juni ini belum bisa menggarap lahannya. Hal tersebut disebabkan oleh curah hujan bulan ini tergolong tinggi. Kejadian ini tidak seperti tahun sebelumnya.

Hal itu di ungkapkan oleh Tono, petani garam di Desa Kalianyar, Kecamatan Kaliori. Ia mengungkapkan, biasanya di bulan ke 6 mereka sudah mulai produksi. Tapi hari-hari ini curah hujan masih tinggi. Jadi mereka menunggu cuaca panas sambil mempersiapan lahan. Agar nanti kalau ada panas baru bisa di garap.

“Waktu yang pas untuk menggarap lahan itu biasanya bulan 6 sampai bulan ke 11. Lahan yang saya garap ini ada sekitar 7.500 m persegi. Satu hektare kurang sedikit. Dari seluruh lahan yang saya garap ini bisa menghasilkan 5 kwintal per panen,” jelasnya.

Tono yang sudah lebih dari lima tahun menjadi petani garam menjelaskan kalau cuaca sedang baik ia bisa panen setiap hari. Namun soal harga ia merasa saat ini harga garam kurang baik. Saat ini perkilo garam kisaran 400 rupiah, lebih besar daripada tahun lalu yang berada di kisaran 300 rupiah.

Sementara itu Munadi, buruh penggarap lahan garam yang ada di Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang sudah memulai tahap sareman atau penghalusan lahan. Menghaluskan lahan merupakan tahap pertama dalam proses produksi garam.

Meskipun cahaya matahari belum maksimal, menurut Munadi saat ini sudah bisa untuk membuat kristal garam. “Ini masih mendang-mendung gini. Tapi sebenarnya cukup untuk membuat kristal garam. Tapi ya tidak bisa maksimal hasilnya,” pungkasnya. (cr6/fat)