SEMARANG, Joglojateng.com – Masyarakat Tionghoa memiliki sejumlah tradisi menarik. Salah di antaranya yakni penyediaan rumah arwah yang digunakan untuk upacara Cheng Beng atau ziarah kubur kepada leluhur.
Di Kota Semarang sendiri, tempat produksi rumah arwah tertua terdapat di Gang Cilik, di Kawasan Pecinan. Di lokasi tersebut, nampak seorang yang sibuk memotong kertas.Hasil potongan kertas kemudian saling direkatkan hingga membentuk miniatur kursi.
“Rumah arwah adalah sebuah miniatur rumah dengan perabot lengkap beserta foto pemilik. Apalagi, bisnis ini bagian dari tradisi kebudayaan. Baiknya bisa terus dilestarikan jangan sampai hilang. Misalkan saya sudah tidak ada, diteruskan anak saya,” kata pemilik Studio Rumah Kertas Hok, Ong Bing Hok saat ditemui, Rabu (23/6).
Pembuatan rumah arwah tersebut sudah digeluti oleh Ong Bing Hok sejak tahun 1995. Ia mengaku, bisnis ini adalah usaha turun temurun dari kakek buyutnya. Namun, jika ditarik garis keluarga dalam bisnis tersebut, dirinya sudah menempati generasi keempat.
Dikatakannya, ramai pesanan rumah arwah biasanya terjadi menjelang acara Cheng Beng. Namun, di situasi pandemi saat ini permintaan pesanan mengalami penurunan. Ia sendiri membrandrol harga Rp 2- 10 juta.
“Di klenteng tahun kemarin masih belum boleh. Jadi agak lesu. Tapi tahun ini sedikit ada kenaikan minat,” ungkapnya.
Ia menjelaskan bahwa untuk membuat 1 rumah dengan ukuran kecil, memakan waktu sepekan. Dirinya juga bisa membuat rumah dalam bentuk model apapun asalkan bukan rumah asli mendiang.
“Kalau dibikin rumah aslinya nanti seolah-olah rumahnya ini dikirim ke alam baka, nanti jadi masalah,” pungkasnya. (cr11/git)










