JOGLOJATENG.COM – Tari tradisional, di era sekarang mungkin sudah tidak terlalu diminati oleh kalangan muda. Siapa sangka, hingga saat ini dunia tari jika ditekuni bisa menghasilkan dan mampu menambah pundi-pundi rupiah.
Seperti yang dilakukan Athika Nuuriya Jannah (20) ini. Awalnya ia tidak menyukai salah satu budaya Jawa tersebut. Namun, dari menari dia mampu membiayai pendidikannya.
“Sebelumnya saya tak menyukai tari, waktu di MTs kelas VIII diajak teman ikut ekstrakurikuler tari. Sela beberapa pekan, langsung diajak ikut sanggar per pertemuan bayar Rp 15 ribu. Dari situ baru nyadar kalau kayaknya punya bakat dan didukung orang tua,” ucap wanita kelahiran Januari 2000 ini, Kamis (9/12).
Sejak mengetahui jika mempunyai bakat, lanjutnya, ia mulai menekuni dunia tari. Dengan alasan, waktu awal duduk di bangku SMK, dirinya disuruh orang tua untuk mandiri.
“Masuk SMK awal, orang tua bilang kamu sudah dewasa, kamu harus mandiri, entah mengambil beasiswa atau bagaimana, tidak dibiayai. Dari situ saya mikir bagaimana bisa mendapatkan uang sendiri,” tuturnya.
Dara cantik bertubuh mungil ini, berpikir untuk membuka sanggar tari sendiri. Yakni dengan kemampuan tari yang sudah ia dapatkan selama mengikuti ekstrakurikuler dan sanggar.
“Dengan ucapan orang tua itu, saya memberanikan diri membuka sanggar untuk melatih anak-anak SD yang ada di daerah sekitar rumah. Keliling menawarkan ke SD, dan Alhamdulillah awal-awal bisa mendapatkan 30an sampai 53 orang yang mau berlatih,” terangnya.
Dengan nama Sanggar Budaya Ummi Sipah, dirinya mematok harga per pertemuan membayar dua ribu. Saat itu, ia masih duduk di bangku SMK kelas XI, dan mulai mendapatkan uang untuk biaya sekolah dari situ.
Athika panggilan akrabnya, juga mendapatkan uang dari hasil nge-job. Seperti pentas seni, ketoprak, wayang, ngantenan, dan sebagainya. Bahkan, ia pernah membuat tarian sendiri dan lagu sendiri.
“Saya bisa bersekolah ya memang dari menari. Per job nari itu dulu dapat Rp 100 ribu. Bahkan, sebelum pandemi Covid-19 berlangsung, tabungan saya bisa banyak,” ujarnya.
Perempuan yang tidak suka makan pedas ini, juga pernah mendapat juara 3 pentas budaya tingkat provinsi se-Jawa Tengah, juara 1 Tari Kreasi di Universitas Muria Kudus, serta mendapatkan undangan untuk mengajar ekskul di sekolah-sekolah.
“Namun, setelah lulus sekolah pada 2019, dan ada Corona ini sudah tidak nari lagi. Karena sepinya job, dan memang sama sekali tidak ada pentas atau pagelaran. Akhirnya saya bekerja di salah satu Koperasi di Kudus,” katanya.
Dengan gaji yang didapat ketika bekerja, Athika baru melanjutkan di perguruan tinggi di 2021 ini. Ia pun mengikuti UKM Tari yang ada di kampusnya dan mulai menari kembali.
Adapun tari yang ia kuasai saat ini banyak sekali. Di antaranya, tari kretek, candi ayu, gambyong, merak, bondan, dan masih banyak lagi. Kebanyakan mengarah ke tari tradisional.
“Kita sebagai anak muda harus mau membudayakan budaya zaman dulu. Namun, dalam menari harus mempunyai niat terlebih dahulu dan menggunakan rasa. Agar tarian bisa dikuasai secara matang,” jelasnya.
Athika mengaku juga sempat mengikuti lomba-lomba fashion show saat di SMK. Pernah mendapatkan juara 1 Fotogenik se-Jawa Tengah di 2018 lalu, dan juara 2 tingkat Kabupaten Kudus.
“Selain menari dan fashion show, saya juga menjadi model atau muse make up di make up artis (MUA). Jika ada MUA yang ikut lomba saya dijadikan modelnya,” ucapnya. (sam/gih)










