Kudus  

Kemunculan Industri Kretek di Masa Belanda

KENANG: Tokoh-tokoh pendiri pabrik kretek di Kudus, dipajang di Museum Kretek. (ANDREAN ADI FIDIANSYAH / JOGLO JATENG)

SEBELUM tahun 1906, kretek di Kota Kudus hanya diproduksi manual menggunakan tangan dan dijual di pasar-pasar. Baru pada 1906, Nitisemito yang masa kecilnya bernama Roesdi bin Soelaiman merintis pabrik kretek pertama di Kudus.

Kepala UPTD Museum Kretek dan Taman Budaya Disbudpar Kudus, Yusron melalui Novi Noor Hayati selaku guide atau edukator Museum Kretek menceritakan, Nitisemito meneruskan produksi kretek yang digagas Mbah Haji Djamhari setelah tutup usia.

Awalnya, Nitisemito membuat kretek dengan istrinya dan dipasarkan oleh kedua putrinya pada 1903-1905. Setelah itu, ia merintis pabrik kretek sekaligus pertanda munculnya industrialisasi kretek.

Novi menjelaskan, dari berbagai literatur yang dihimpun, Nitisemito pertama kali membuat pabrik untuk menghasilkan produk andalannya. Kemudian diberi merek Bal Tiga, dengan logo tiga lingkaran saling berhimpitan.

“Tahun 1906, Mbah Niti mendirikan pabrik dengan luas 6 hektare dan memiliki lebih dari 10.000 karyawan. Pabrik yang berlokasi di Jati, Kudus diresmikan pada 1918 dengan nama Sigariten Fabriek M Nitisemito Koedoes,” papar Novi, belum lama ini.

Pada saat itu, lanjutnya, penjajah Belanda masih berada di negeri ini. Akan tetapi perusahaan kretek di Kabupaten ini bisa dikatakan berjaya. Karena apa yang dilakukan Nitisemito melampaui zaman itu, dari cara mempertahankan juga marketing produknya.

Perusahaan itu mampu menerapkan strategi pemasaran modern yang hingga kini masih dilakukan para produsen modern. Pada masa kejayaannya, Nitisemito sudah melakukan berbagai cara promosi seperti membuka stand pameran, mobil keliling, sponsor, dan masih banyak lagi.

“Pernah menyewa pesawat Fokker dari Belanda. Beliau menyebar pamflet berhadiah ke Jakarta, Bandung dan sekitarnya. Memberi merchandise atau souvenir, sepeda, mobil sedan dan lainnya. Selain itu Beliau pernah mendongkleng film Panggilan Darah hingga membuat studio radio sendiri  yang sampai ke mancanegara,” jelasnya.

Pada tahun 1939-an ketika pecahnya perang dunia kedua, yang bersamaan Jepang datang di Indonesia khususnya Kabupaten Kudus, seluruh aset Nitisemito dirampas untuk kebutuhan tentara-tentara mereka.

“Aset-aset produksi kretek diambil oleh jepang. Tak luput juga milik Nitisemito, tidak hanya bahan baku yang diambil. Tetapi mobil-mobil dengan jumlah yang tidak sedikit, bahkan pabriknya pun diambil alih oleh Jepang untuk mess bala tentara mereka,” terangnya.

Sebelum pecahnya perang dunia, home industry kretek sangat banyak sekali, hampir seluruh warga memproduksi, dan sepanjang jalan jualan kretek. Oleh karena itu kretek di Kudus belum bisa dikatakan pulih seperti dulu.

Selain Nitisemito ada juga M. Atmowidjojo, pendiri rokok Goenoeng Kedoe sejak 1910. Tjoa Khang Hay, pendiri rokok NV Trio sejak 1912. H. Ali Asikin, pendiri rokok Djangkar sejak 1918. H.M. Moeslich, pendiri rokok Teboe & Tjengkeh sejak 1919. M. Sirin Atmo, pendiri rokok Garbis & Manggis sejak 1922. Koo Djee Siang, pendiri rokok Nojorono sejak 1932. H.A. Ma’ruf, pendiri rokok Djambu Bol sejak 1937. MC Wartono, pendiri rokok Sukun sejak 1948, dan Oei Wie Gwan, pendiri rokok Djarum sejak 1951. (cr9/gih)