Unik, Soto Bumbong Berwadahkan Bambu

UNIK: Soto Bumbong, soto dengan isian irisan daging sapi, tomat, bihun, dan taburan seledri dan bawang goreng dalam wadah bambu. (ERNA SARI SUSANTI/ JOGLO JATENG)

BANTUL, Joglo Jateng – Soto merupakan salah satu makanan yang cocok dengan lidah masyarakat Jogja. Pada penyajiannya, kebanyakan soto ditempatkan di mangkok biasa. Namun berbeda dengan soto bumbong. Soto ini disajikan dengan wadah bambu.

Heru Kusdianto, pemilik soto bumbong tersebut merupakan jebolan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Menurutnya, kuliner membutuhkan sentuhan seni untuk membuatnya menarik.

“Aku lulusan seni, tapi di otak saya mengolah kuliner menjadi antik. Memang makanan juga perlu sentuhan seni, agar pembeli tertarik,” ujarnya, Kamis (17/2).

Ia melihat beberapa warung soto di Yogyakarta, termasuk salah satunya soto bathok. Dari soto tersebut, terbesit ingin membuat sesuatu yang berbeda.

“Dulu awalnya saya dari pondok pesantren, ngeliat Deddy Corbuzier muallaf sama Gus Miftah. Dari situ, aku makan di soto bathok dan kepikiran buat bikin sesuatu yang berbeda di Bantul, kebetulan di depan rumah ada bambu petung,” jelasnya.

Ia menjelaskan bumbu soto sama dengan yang lain. Namun wadahnya saja yang berbeda. Yaitu menggunakan bambu.

“Aku masih inget, idenya tercetus 21 Juli 2019. Di depan rumah ada bambu petung, aku gergaji, aku potong, diisi air, tekan pakai sendok. Kok ga jauh beda sama kapasitas mangkok,” ungkapnya.

Ia menambahkan, tidak butuh waktu lama untuk membuka warungnya. Grand opening soto hanya berselang beberapa hari setelah idenya tercetus, yakni pada 1 Agustus 2019.

“Pas buka di depan rumah bawah pohon jati. Respon masyarakat langsung ramai, apalagi youtuber, instagrammer pada kesini ngebantu penjualan,” ucapnya.

Namun ia menambahkan, konsep outdoor tersebut hanya bertahan tiga bulan. Memasuki musim hujan, ia ubah rumahnya menjadi warung soto.

“Masuk bulan November – Desember, udah musim hujan aku udah inisiatif rumahku ku ubah jadi warung. Soalnya kebetulan halaman rumah juga luas. Jadi pas hujan, bisa langsung pindah,” imbuhnya.

Ia mengaku, dalam satu hari bisa menghabiskan 3 panci kuah soto saat kondisi ramai. Kedepannya ia berharap dapat membuka cabang di seluruh Indonesia.

“Ini baru buka cabang sebulan ini. Pinginnya ya buka cabang ke seluruh Indonesia. Soalnya harganya murah, merakyat, cocok di lidah,” harapnya.

Soto bumbong sendiri dijual Rp 6.000 per porsi. Selain harganya yang murah dan terjangkau, pengunjung juga akan dimanjakan dengan suasana persawahan. (ers/bid)