Kudus  

Museum Kretek Diresmikan sejak 1986

PAPARAN: Guide atau Edukator Museum Kretek Novi Noor Hayati saat menjelaskan koleksi museum kepada pengunjung, belum lama ini. (ANDREAN ADI FIDIANSYAH / JOGLO JATENG)

SALAH satu museum yang cukup populer di Kabupaten Kudus adalah Museum Kretek. Museum ini menjadi tempat berkunjung wisatawan lokal dan mancanegara. Mereka ingin mengetahui mengenai seluk-beluk kretek dan sejarahnya.

Kepala UPTD Museum Kretek dan Taman Budaya Disbudpar Kudus, Yusron melalui Novi Noor Hayati selaku Guide atau Edukator Museum Kretek menceritakan sejarah berdirinya museum itu. Ia menjelaskan, awalnya, Supardjo Roestam selaku Gubernur Jawa Tengah saat itu berkunjung ke Kudus. Supardjo menyukai pembuatan kretek di Kudus.

“Menurut beliau potensi kretek yang seperti ini harus ada museumnya,” ujar Novi, saat ditemui, belum lama ini.

Ia mengatakan, setelah datangnya Supardjo Roestam, Persatuan Perusahaan Rokok Kudus (PPRK) membuat atau membangun museum kretek yang direkomendasikan oleh Gubernur Jateng dikala itu. Kemudian Supardjo yang akhirnya menjabat Menteri Dalam Negeri pun meresmikannya.

“Tepatnya, 3 oktober 1986 diresmikannya Museum Kretek Kudus. Yang saat itu pula PPRK yang bertanggung jawab atas museum ini,” ucapnya.

Selain itu, Novi menjelaskan bahwa di Museum Kretek terdapat kurang lebih 800 koleksi. Menurutnya, koleksi-koleksi tersebut merupakan hibah dari perusahaan di Kudus, juga dari keluarga kretek Kudus.

“Ada beberapa display yang disimpan. Kenapa disimpan, karena koleksi tersebut memiliki kerusakan lebih dari 40 persen. Apabila itu tetap ditaruh di display, akan membuat koleksi semakin rusak,” jelasnya.

Ia menerangkan, jenis koleksi yang ada di museum ini yaitu biologika, historika, teknologika, kramologika, dan etnografika. Menurutnya, masih banyak benda yang belum dikaji untuk bisa dipajang di Museum Kretek.

“Seperti bungkus kretek semua asli. Ada juga tembakau, cengkeh dari beberapa asal. Juga ada keramik-keramik dari pabrikan kretek Kudus. Dan tentunya koleksi peninggalan entrepeuner kretek yaitu koleksi Nitisemito,” paparnya.

Di Museum Kretek ini juga terdapat diorama-diorama, yang menggambarkan bagaimana cara membuat kretek, klobot, hingga petani-petaninya. Menurut Novi, para pengunjung di museum itu beragam. Mulai pelajar, keluarga, sejarawan dan lain-lain.

Untuk memasuki Museum Kretek, pengunjung cukup merogoh saku Rp 4000, sedangkan hari libur nasional Rp 5000. “Mulai 2007 sudah dilimpahkan yang bertanggung jawab adalah Pemda Kudus. Pada 2010 dibangun wahana waterboom untuk lebih memikat para pengunjung,” ucapnya. (cr9/gih)