UMKM  

Berawal dari Suka Belanja dari Thrift Shop, Estri Ambil Untung dari Pakaian Second

EKSIS: Estri Pungkas Utami saat berada di salah satu event thrifting, beberapa waktu lalu. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

BISNIS jualan pakaian dinilai menguntungkan di tengah pandemi Covid-19. Sebab, peraturan pembatasan yang diterapkan oleh pemerintah membuat masyarakat mulai jarang mengunjungi mal atau pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian baru. Kondisi ini dimanfaatkan oleh salah satu pebisnis thrift shop atau produk second di Kota Semarang bernama Tobless.ing.

Owner Tobless.ing, Estri Pungkas Utami mengatakan, bisnisnya bermula saat awal pandemi Covid-19, ia suka belanja barang dari thrift shop. Menurutnya, barang thrifting ini harganya terjangkau serta berkualitas. Untuk itu, dirinya memulai jualan rajut dan kemeja flanel second yang masih banyak diminati semua kalangan.

“Saya awalnya suka beli thrifting, pertama bajunya nyaman dipakai dan harganya terjangkau. Kedua, semua barang yang di thrifting shop nggak kalah saing dengan barang mal. Setelah itu, saya mulai usaha rajut dan kemeja flannel karena mulai dari perempuan dan pria, semua usia masih meminatinya,” ujarnya, Rabu (9/3).

Estri menjelaskan, terkadang stok barangnya tidak semuanya bagus, bahkan ada barang yang terkesan rusak. Sehingga, dirinya harus memutar otak agar barang rijek bisa laku.

“Pernah dapat barang tidak sesuai ekspektasi, kadang ukurannya kecil, sampai cacat. Mau nggak mau, kita harus obral jual murah. Misal, barang rijekan kancingnya hilang harus dibenerin dulu, intinya harus teliti dan telaten,” ucapnya.

Menurutnya, peminat barang second cukup banyak lantaran event-event thrifting sering digelar, serta media sosial banyak yang mengangkat bisnis tersebut. Sehingga, ia mendapatkan keberkahan adanya hal itu.

“Kalau peminat dua tahun belakang, puncak thrifting sering adanya event. Dari situ, saya sering ikut event untuk menarik pelanggan. Tak hanya itu, follower medsos juga banyak,” tuturnya.

Barang yang ditawarkan oleh Estri sangat terjangkau bagi semua kalangan. Di antaranya, rajut cukup merogoh kocek 20 ribu- 40 ribu, dan kemeja flannel 35 ribu-90 ribu. Sementara, omzet yang diraup per bulan mencapai 5 juta rupiah.

“Capaiannya, ya income pasif sebulan bisa buat jajan dan menambah kebutuhan. Omzet satu bulan, satu tahun terakhir menurun, kisaran 3-5 juta rupiah bersihnya,” bebernya. (dik/gih)