Gempa Rusak Sekolah, Siswa Belajar di Tenda Terpal

SESAK: Siswa-siswi SDN Rantau Pauh Talamau, Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat melakukan proses belajar mengajar beratapkan terpal, Selasa (15/3). (ANTARA/JOGLO JATENG)

SIMPANG EMPAT, Joglo Jateng – Siswa Sekolah Dasar Negeri 20 Rantau Pauh Talamau Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat belajar di bawah tenda terpal seadanya. Hal ini lantaran ruangan kelas yang ada rusak berat akibat gempa pada Jumat (25/2) lalu.

Kepala Sekolah SDN 20 Talamau, Neli Suswati mengatakan, jumlah murid di sekolahnya adalah sebanyak 131 orang. Saat ini, proses belajar mengajar tidak dapat dilakukan di enam ruangan kelas karena sudah rusak akibat gempa.

“Beginilah kondisi belajar mengajar saat ini di bawah terpal yang diikat pakai tali dan tiang bambu yang didirikan di halaman sekolah,” ujarnya di Simpang Empat, Selasa (15/3).

Neli mengungkapkan, pada hari pertama sekolah pascagempa pada Senin (14/3), anak-anak di sekolah belajar tanpa tenda dan terpal. Setelah belajar tanpa tenda di hari pertama, pihaknya meminta kepada kepala jorong dan wali nagari atau kepala desa untuk mengupayakan tenda. Sehingga anak-anak yang belajar terhindar dari teriknya matahari.

“Hari ini (Selasa (15/3), Red) tenda terpal telah didirikan dan anak-anak bisa belajar di bawah terpal seadanya,” tuturnya.

Ia berharap kepada pihak terkait dapat menyediakan tenda yang layak pakai. Agar anak-anak terhindar dari panas dan hujan saat belajar.

Mengenai tingkat kehadiran siswa, imbuh dia, dari 131 orang itu hadir sekitar 90 persen. Sisanya masih belum datang karena masih trauma dengan gempa susulan.

“Saat ini proses belajar mengajar baru dimulai dua hari ini. Untuk ujian belum dimulai,” paparnya.

Salah seorang siswa kelas 2, Fatimah merasa bersyukur atas dimulainya kegiatan belajar mengajar. Meskipun kondisi masih dengan tenda seadanya.

“Sangat senang bisa kembali belajar di bawah tenda ini,” ucapnya.

Hal yang sama dikatakan siswa kelas 6, Rama. Menurutnya, meskipun masih takut dengan gempa, ia senang bisa kembali belajar bersama teman-temannya.

“Saya sempat tertimpa reruntuhan triplek loteng sekolah. Namun, tidak apa-apa,” katanya.

Sementara itu Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Pasaman Barat, Agusli mengatakan, akan terus melengkapi sarana prasarana untuk mendukung proses belajar mengajar di sekolah terdampak gempa.

“Khusus tenda akan segera kita lengkapi. Saat ini memang ada sebagian sekolah yang sudah pakai tenda dan ada yang belum karena proses belajar mengajar baru dua hari ini dimulai,” ujarnya.

Sebanyak 26 SD dan 5 SMP memulai proses belajar mengajar sejak Senin (14/3). Pada pelaksanaannya, akan disediakan tenda darurat untuk sekolah dengan kerusakan berat dan sedang. (ara/ern)