Figur  

Belajar Menari dari Kecil, Amel Bertekat Kenalkan Tari pada Dunia

Amelliya Noer. (DOK. PRIBADI / JOGLO JATENG)

BANYAK anak muda enggan mempelajari dan menekuni dunia tari. Namun tidak dengan Amelliya Noer (18). Baginya tari yang ia pelajari dari sang ibu merupakan suatu kebanggaan yang harus dilestarikan dan dikenalkan pada dunia.

Perempuan kelahiran Purworejo yang biasa disapa Amel itu mengaku, ia belajar tari tradisional sejak duduk di bangku taman kanak-kanak (TK). Ibundanyalah yang menjadi guru tari pribadinya. Dari ketekunannya mempelajari tari, Amel sering mendapatkan trofi juara menari dari tingkat sekolah hingga kabupaten.

Menurutnya, tari adalah sebuah seni yang memiliki jiwa. Sebab ketika menari, seorang penari harus mampu menghayati semua gerak tubuh yang mempunyai filosofi di setiap gerakannya. Bahkan dari tari, ia banyak belajar arti kehidupan.

“Semua tarian pasti mengandung pembelajaran di baliknya. Karena tari itu tercipta dari kebiasaan tingkah masyarakat sehari-hari. Di situ lah saya belajar memaknai kehidupan,” ujarnya, Minggu (20/3).

Amel merasa termotivasi menekuni dunia tari karena untuk melestarikan budaya tradisional Indonesia. Di mana anak muda di zaman sekarang banyak yang menyepelekan tarian dan menganggap tari budaya jaman dulu (jadul).  Bahkan tidak sedikit teman di lingkungan Amel merendahkan profesinya. Tapi ia tetap semangat untuk tetap menari.

“Apa itu tari jadul kuno, urakan main kotoran. Itu kata mereka yang sampai sekarang jadi sebuah motivasi dalam diri tetap bertahan. Bukan untuk dipuji, tapi sebagai pengamalan budaya tradisional agar dikenal dunia,” ucapnya.

Ia berpesan kepada seluruh generasi muda Indonesia, untuk mencintai, bangga, atau bahkan menekuni apapun yang memiliki nilai budaya tradisional. Sebab hal ini merupakan identitas bangsa Indonesia. Jika tidak dilindungi, maka akan diambil oleh bangsa asing.

“Pesan untuk anak muda jangan malu untuk melestarikan budaya tradisional. Jangan dengerin omongan orang yang membuat kita insecure. Tetap jadi diri sendiri dan maturnuwun untuk kalian yang telah bangga akan budaya tradisional,” ucapnya. (fan/gih)