Labu dapat dimanfaatkan menjadi berbagai macam olahan. Selain buahnya, daunnya pun dapat dimasak dan bernilai jual.
BANTUL, Joglo Jogja – Kelompok Wanita Tani (KWT) Suka Maju, Palihan, Sidomulyo, Bambanglipuro, Bantul mengkreasikan buah dan daun labu dengan berbagai macam camilan. Saat dijumpai, ibu-ibu ini sedang sibuk memasak. Seperti mengolah keripik daun labu, dodol labu, dan geplak labu.
Mereka sedang sibuk mengolah labu menjadi camilan enak. Terdapat ibu-ibu yang sedang membentuk dodol dan mengemasnya, dan beberapa ibu lainnya menggoreng keripik daun labu serta membuat geplak labu.
Wartawan Joglo Jogja pun disuruh untuk mencicipinya. Rasa dari keripik daun labu sendiri terasa gurih. Karena dimasak dengan dua kali penggorengan, tanpa ada rasa gatal. Sementara untuk geplak labunya sendiri terasa manis, namun rasa khas dari labunya masih mendominasi.
“Labu dapat diolah menjadi berbagai jenis makanan. Seperti dodol labu, pizza, geplak, pie, kroket, klepon, kolak, dan sayur. Sementara daunnya bisa dibikin keripik, sayur lodeh, sayur buntil,” ujar Tasminah sebagai KWT Suka Maju saat diwawancarai Kamis (24/3).
Tasminah menjelaskan, bahwa labu kaya akan kandungan gizi. Bahkan bisa sebagai penambah stamina untuk laki-laki.
KWT Suka Maju yang berjumlah 25 anggota ini pun sudah mulai menanam labu di halaman rumahnya. Pantauan di lapangan, terdapat labu madu yang sudah siap panen di dekat rumah, tepatnya di dinding untuk sekat sumur.
Ia mengaku mencoba resep keripik daun labu sendiri. Kemudian untuk makanan seperti pizza labu dan kroket labu, ia lihat dan belajar dari youtube.
“Kan labu banyak vitaminnya, jadi katanya bagus. Coba-coba lihat youtube, kemudian ibu-ibu KWT mencoba masak, setelah jadi dicicipi kok enak,” ujarnya.
Sementara itu, untuk produk labu ini harganya cukup terjangkau. yaitu berkisar dari tiga ribu hingga enam puluh ribu rupiah. Tergantung jenis dan ukurannya.
“Harga geplak sama dodol labu sekilo enam puluh ribu, keripik daun labu tiga puluh ribu, pizza labu ukuran kecil lima ribu, dan pie labu ada yang Rp 2.500 hingga Rp 5000. Nantinya akan di proses P-IRT soalnya kan ini masih baru,” ujarnya.
Untuk sekarang ini produk dapat dipasarkan saat ada tetangga yang hajatan. Kemudian juga di pasar dan minimarket terdekat. Dengan adanya olahan makanan ini, ia berharap dapat menambah penghasilan lebih.
“Kalau ada pesanan hajatan bisa, atau di jual di pasar dan minimarket terdekat. Semoga semakin berkembang, jadi bisa dapet tambahan penghasilan dari sini,” harapnya. (ers/bid)










