Figur  

Queen of Latte Art

Qiqie Biant. (AFIFUDIN / JOGLO JOGJA)

Queen of latte art. Mungkin itu sebutan yang sering disematkan pada dara asli Magelang, Qiqie Biant. Berbeda dengan barista pada umumnya, Qiqie sapaan akrabnya, lebih terkenal dengan kreasi latte artnya.

Bermodalkan ketekunan dan imajinasi, Qiqie biasa mengukir berbagai macam kreasi gambar di secangkir kopi. Skill kreasi latte art menurutnya bisa menjadikan orang penasaran, bahkan bisa menjadikan seseorang jatuh cinta pada kopi.

“”Banyaknya orang suka kopi gara-gara latte. Dari latte biasanya lanjut nyobain cappucino, terus Americano sampai ekspresso,” ungkapnya belum lama ini.

Dara kelahiran Magelang tersebut mengaku mulai belajar menjadi barista pada awal tahun 2012 silam. Itu pun karena faktor ketidak sengajaan. Karena barista di tempat ia kerja dulu resign dari pekerjaannya. Sedangkan profesinya saat itu masih menjadi pegawai biasa.

Meski pada awalnya ia merasa kurang yakin, namun lambat laun ia mulai percaya, bahwa ia mampu menjadi barista. Uniknya kepercayaan itu berangkat dari orang lain.

“Owner saya dulu mempercayakan saya untuk menjadi barista. Kalau orang lain percaya sama saya, masa saya gak percaya sama diri sendiri,” lanjutnya.

Atas kegigihannya tersebut, bahkan ia pernah menjadi juara satu dalam ajang kompetisi barista pada tahun 2012. Tidak cukup berhenti disini, Qiqie terus mengembangkan potensi dirinya, terutama dalam pembuatan latte art.

Ia mengaku belajar teknik latte art secara otodidak sejak sekitar tahun tahun 2013 lalu. Hal tersebut yang semakin menginspirasinya, bahwa masih banyak hal yang harus ia pelajari di dunia perkopian.

Menurutnya, keberadaan barista yang bisa teknik latte art bisa menarik perhatian pelanggan. Selain itu bisa juga dijadikan bukti skill seorang barista. Karena untuk membuat latte art dibutuhkan skill khusus.

“Latte art tidak cukup buang susu dan ekspreso tapi ada step yang harus dipelajari dengan penuh ketekunan dan kreativitas. Terutama bagaimana agar kombinasi pas, mulai dari suhu sampai tekstur formnya,” ungkapnya.

Beberapa orang menyebutkan bahwa menguasai teknik latte art adalah bonus barista. Menanggapi hal tersebut ia mengaku tidak setuju. Karena untuk membuat karya latte art, dibutuhkan skill khusus.

Untuk membuktikan keahliannya, secara pribadi ia tidak berhenti pada belajar. Akan tetapi harus memberanikan diri terjun ke kompetisi. Ia pun pernah menjadi juara satu latte art pada tahun 2013.

“Sebenarnya sama kaya pelukis, hanya beda media saja. Kalau dulu masih standar bikin art cuman tulip, hati dan itu-itu saja. Kalau sekarang bisa macam-macam seperti kuda laut dengan kombinasi teknik latte art,” pungkasnya. (fif/bid)