UMKM  

Buka Usaha Tauco Resep dari Ibunda

PRODUK: Dian Subagiyo saat memamerkan produk tauco miliknya di kediamannya, Selasa (28/6). (UFAN FAUDHIL / JOGLO JATENG)

Karena terbiasa dengan bekerja, biasanya seseorang setelah pension memerlukan aktivitas. Seperti halnya Dian, memilih usaha pembuatan tauco.

UNTUK mengisi waktu luang setelah pensiun dari jabatannya sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusarda) Pemalang, Dian Subagiyo (62) membuka usaha pembuatan tauco. Awalnya dia hanya membuat tauco untuk konsumsi pribadi. Sedangkan resep tauconya dari ibundanya tercinta.

Selamat Idulfitri 2024

Pria yang akrab disapa Dian ini menjelaskan, tauco yang ada di toko ataupun pasar menurutnya ada yang kurang dilidahnya. Sehingga dari situ, ia berinisiatif membuat tauco dari resep ibundanya dahulu.

“Ya dulu ibu sering buat tauco, saya yang suka bantuin jadi akhirnya bisa membuat. Untuk usaha ini sudah lama berjalan, tapi sekarang ya buat mengisi waktu di rumah dan membantu masyarakat memperoleh pekerjaan,” ujarnya.

Dalam proses pembuatannya, ia mengungkapkan memerlukan waktu hampir satu bulan untuk sekali produksi. Waktu yang lama tersebut karena dalam proses pembuatan tauco harus melalui fermentasi agar keluar jamur. Agar nantinya saat matang memiliki rasa yang khas dan sedap.

Untuk harga, dirinya menjual tauco miliknya dalam kemasan besek anyaman bambu 20 ribu per kilo. Di dalamnya dapat berisi lebih dari satu kilo tauco sesuai keinginan atau pesanan pembeli.

“Besek anyaman ini saya gunakan karena lebih bagus dan tahan air, jika menggunakan kardus ditakutkan air yang terkandung dalam tauco merusak kemasan. Tapi ya tetangga biasanya beli per seperempat kilogram lima ribu kemasan kecil itu,” tuturnya.

Lebih lanjut, selain menjual tauco pihaknya juga menerima titipan dari produk UMKM lainnya di Pemalang. Hal tersebut merupakan bentuk kerjasama saling menguntungkan, dimana ketika pembeli datang bisa saling menawarkan produk UMKM tersebut ke pelanggan lainnya.

“Dulu sebelum pandemi banyak produk di sini, tapi karena Covid-19 itu banyak UMKM gulung tikar jadi hanya segitu. Beberapa seperti selai, manisan dari nanas, emping, keripik itu ada dari titipan UMKM lainnya,” imbuhnya. (fan/gih)