Lestarikan Tradisi Jamasan Bende Becak

TRADISI: Proses menjamas Bende Becak di Desa Bonang, Kecamatan Lasem, Minggu (10/7). (HUMAS/JOGLO JATENG)

REMBANG, Joglo Jateng – Tradisi jamasan Bende Becak di Desa Bonang, Kecamatan Lasem Kabupaten Rembang kembali digelar, Minggu (10/7) lalu. Bende Becak ini berbentuk seperti gong kecil peninggalan Sunan Bonang. Konon, benda ini adalah sosok utusan dari kerajaan Majapahit yang bernama Becak.

Becak dikirim Raja Majapahit waktu itu, Brawijaya V untuk mengirim surat jawaban atas ajakan Sunan Bonang untuk memeluk agama Islam. Dalam surat tersebut, berisikan bahwa Raja Brawijaya V menolak untuk memeluk agama Islam.

Bende Becak setiap setahun sekali dijamas bertepatan pada Hari Raya Idul Adha. Momen tersebut tak hanya dihadiri oleh warga Kabupaten Rembang saja, namun dari berbagai daerah. Mereka datang ingin mendapatkan air bekas menjamas atau mencuci Bende Becak. Air tersebut dipercaya dapat membuat seseorang awet muda dan sembuh dari penyakit.

Wakil Bupati Rembang, Mohammad Hanies Cholil Barro’ menuturkan, tradisi penjamasan Bende Becak tak sekedar mengingatkan kembali kisah Sunan Bonang dalam menyebarkan agama Islam di Desa Bonang. Lebih dari itu, tradisi tersebut menjadi simbol keragaman budaya di Kabupaten Rembang yang harus tetap dilestarikan.

“Saya kebetulan baru kali pertama ini hadir di penjamasan Bende Becak, mewakili pak Bupati. Tradisi-tradisi peninggalan Sunan Bonang yang menjadi syiar agama terus tumbuh sampai sekarang, harus dijaga,” tuturnya.

Tentang air jamasan bende Becak, Wabup mengingatkan semua mesti dikembalikan pada kuasa Tuhan Allah SWT. “Yang penting jangan menjurus ke syirik, karena yang menyembuhkan tetap Allah SWT,” tandasnya. (hms/abd)