PATI, Joglo Jateng – Hujan lebat yang terjadi Rabu (13/7) malam menyebabkan banjir di Kabupaten Pati. Banjir tersebut merendam sejumlah wilayah di Kota Bumi Mina Tani, terutama di daerah perkotaan, Kamis (14/7).
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pati, Martinus Budi Presetya menyebutkan, banjir merendam sejumlah wilayah kota. Salah satunya adalah Desa Kalidoro yang terkena dampak paling parah.
“Banjir yang paling parah itu di Kalidoro, dengan ketinggian air 50 sentimeter. Kemudian, wilayah Sidokerto, Mustokoharjo, Mulyoharjo, Ndengkek, dan Widorokandang juga ikut terdampak,” jelasnya, Kamis (14/7).
Berdasarkan keterangannya, banjir di wilayah kota diakibatkan luapan air dari Sungai Godi karena adanya tumpukan sampah yang menghambat aliran air. Sedangkan hujan turun mulai Rabu (13/7) pukul 23.30 WIB .
“Banjir terjadi akibat tingginya curah hujan. Akibatnya, Pati dapat kiriman air dari lereng Muria sebelah timur. Sehingga, Sungai Godi ikut meluap,” terangnya.
Sementara itu, Anggota Komisi B DPRD Pati, Sukarno mengatakan, banjir yang merendam sejumlah wilayah di Pati bukan hanya faktor hujan. Akan tetapi juga diakibatkan kurangnya kepedulian terhadap alam.
“Baik Pemkab maupun masyarakat, harus bersama sama memikirkan lingkungan. Karena selain hujan yang ekstrem, dampak degradasi lingkungan sangat menentukan kejadian ini,” tegasnya.
Menurutnya, fenomena cuaca saat ini mengubah kondisi alam. Oleh karena itu, secara tegas Sukarno mendorong Pemkab supaya bisa mengedepankan pembangunan yang tidak merusak alam.
“Kita wajib menata kembali arah pembangunan Kabupaten Pati yang berwawasan lingkungan berkelanjutan. Dalam pembangunan untuk memajukan, meningkatkan ekonomi, atau pendapatan masyarakat Pati. Jangan sampai malah menimbulkan masalah baru yang menyebabkan kerugian lebih besar,” pungkasnya. (lut/abd)










