Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Kebijakan Merdeka Belajar

Oleh: Shohib, S.Pd.SD., M.Pd.
Guru SDN Kangkung 3, Kec. Mranggen, Kab. Demak

KEHADIRAN teknologi dan informasi dalam dunia pendidikan saat ini tidak bisa dinafikan lagi, karena pada era sekarang, teknologi telah berkembang dengan pesat. Kehadiran teknologi mulai menggantikan sistem manual menjadi sistem digital. Secara umum, era digital adalah suatu kondisi kehidupan atau zaman di mana semua kegiatan yang mendukung kehidupan sudah dipermudah dengan adanya teknologi. Bisa juga dikatakan bahwa era digital hadir untuk menggantikan beberapa teknologi masa lalu agar jadi lebih praktis dan modern. Pendidikan di era digital merupakan pendidikan yang harus mengintegrasikan Teknologi Informasi dan Komunikasi ke dalam mata pelajaran.

Selamat Idulfitri 2024

Pendidikan Indonesia mempunyai visi mewujudkan Indonesia maju dan berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. Untuk mewujudkan visi tersebut, pemerintah sudah banyak mengeluarkan kebijakan dan program, salah satunya adalah Merdeka Belajar.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Pengertian merdeka belajar dari sudut pandang pengajar, bahwa belajar berarti belajar yang melibatkan murid dalam penentuan tujuan, memberi pilihan cara, dan melakukan refleksi terhadap proses dan hasil belajar.  Belajar bukan untuk ujian, tapi untuk mencapai tujuan belajar yang bermakna. Belajar bukan untuk dikendalikan pengajar, tapi disepakati bersama antara pengajar dan pelajar. Belajar bukan dengan cara yang seragam, tapi ada diferensiasi cara belajar. Belajar bukan hanya menghafal rumus, tapi menalar dan menyelesaikan persoalan belajar bukan untuk dinilai pengajar, tapi dinilai bersama untuk membangun kesadaran belajar bukan dinilai oleh besarnya angka, tapi oleh karya yang bermakna.

Merdeka belajar memberikan kebebasan dalam belajar yaitu bisa di mana saja, kapan saja, bahkan dari sumber mana saja. Salah satunya belajar melalui teknologi digital. Hal ini menjadi perhatian bersama baik pemerintah, guru, orang tua maupun masyarakat untuk memberikan pengawasan dan bimbingan agar anak-anak tetap dapat mengakses pembelajaran dengan baik, untuk itu diperlukan sebuah terobosan digitalisasi sekolah yang dapat menunjang terjadinya percepatan penyiapan pelajar-pelajar Pancasila sebagai tunas-tunas bangsa.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Secara konsep, digitalisasi sekolah merupakan implementasi dari new learning yang disiapkan untuk menghadapi revolusi industri. Karakteristik new learning tersebut adalah student center, multimedia, student center, multimedia, kerja kolaboratif, pertukaran informasi, dan pemikiran kritis dalam pembuatan informasi.

Kurikulum Merdeka Belajar adalah kebijakan pengembangan yang dikeluarkan Kemdikbudristekdikti untuk pembelajaran peserta didik di sekolah. Kebijakan merdeka belajar menjadi langkah untuk mentransformasi pendidikan demi terwujudnya Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul Indonesia yang memiliki Profil Pelajar Pancasila. Kurikulum ini juga dikenal dengan pembelajaran intrakurikuler yang beragam di mana konten akan lebih optimal agar peserta didik memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan menguatkan kompetensi.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Terdapat beberapa istilah kata baru dalam Kurikulum Merdeka terutama dalam hal perangkat pembelajaran seperti Modul Ajar pengganti istilah RPP, Kurikulum Operasional Satuan Pendidikan (KOSP) menggantikan istilah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) menggantikan Silabus, Capaian Pembelajaran (CP) menggantikan Kompetensi Inti (KI), Tujuan Pembelajaran menggantikan Kompetensi Dasar (KD), Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) menggantikan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM), Indikator Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (IKTP) menggantikan Indikator Pencapaian Kompetensi (IPK), Sumatif menggantikan Penilaian Harian (PH), Sumatif Tengah Semester (STS) menggantikan Penilaian Tengah Semester (PTS), Sumatif Akhir Semester (SAS) menggantikan Penilaian Akhir Semester (PAS), Indikator Asesmen menggantikan indikator soal, Formatif menggantikan Penilaian Teman Sejawat. (*)