Example Non Example untuk Memahami Belajar Keberagaman Budaya Indonesia

Oleh: Diyar Suripno, S.Pd.
Guru SDN 02 Kuta Bantarbolang, Kec. Bantarbolang, Kab. Pemalang

MUATAN pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) merupakan salah satu muatan pelajaran yang ada dalam Kurikulum 2013. Muatan pelajaran ini digunakan sebagai wahana untuk mengembangkan dan melestarikan nilai luhur dan moral bangsa yang berakar pada budaya bangsa Indonesia. Untuk siswa Sekolah Dasar (SD), nilai luhur dan moral tersebut diharapkan dapat diaplikasikan dalam wujud perilaku peserta didik dalam kehidupan sehari-hari.

Selamat Idulfitri 2024

PPKn mempunyai aspek pokok berupa pengembangan dan pelestarian nilai luhur budaya bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Nilai luhur budaya Indonesia sangat beragam tergantung di daerah mana nilai itu berada. Karena masyarakat Indonesia sangat beragam, maka pemerintah mengupayakan dan mengimplementasikan dalam muatan kurikulum pendidikan dasar, salah satunya pada kelas 3 tema 8 Praja Muda Karana, Sub tema Aku Suka Berpetualang, materi Mengenal Budaya Indonesia.

Menurut Buehl (1996) yang dikutip dari Apariani dkk (2010: 20), example non example dijelaskan sebagai salah satu taktik yang tepat diterapkan atau digunakan dalam mengajarkan suatu definisi konsep. Mempelajari keanekaragaman suku bangsa dapat dilakukan dengan melalui model example non example. Pembelajaran ini merupakan pembelajaran yang memanfaatkan gambar sebagai media belajar yang bertujuan untuk mendorong peserta didik belajar berpikir kritis dengan cara memecahkan permasalahan yang terkandung dalam contoh-contoh gambar yang disajikan. Example memberikan gambaran contoh sebuah konsep, sedangkan non example adalah bukan gambaran contoh dari konsep yang dipelajari siswa.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Untuk mengenal suku bangsa dan budaya di Indonesia, guru menggunakan media gambar yang telah disediakan sebelumnya. Gambar yang disajikan berupa gambar berbagai bagian budaya beberapa suku bangsa yang ada di Indonesia dan beberapa gambar bagian dari budaya asing. Gambar tersebut bisa berupa gambar rumah adat, pakaian adat, makanan ataupun minuman khas, tarian, atau bisa alat musik daerah. Di depan kelas, guru menunjukkan masing-masing gambar dan menanyakan pada peserta didik mana yang merupakan gambar example dari budaya masyarakat Indonesia, dan mana yang merupakan unsur budaya asing yang merupakan non example.

Dalam langkah pembelajaran ini, peserta didik akan mengasosiasikan pengalamannya dalam kehidupan sehari-hari dengan pengetahuan baru yang didapat. Untuk menambah semangat peserta didik, guru dapat memberikan reward kepada peserta didik yang dapat menjawab dengan benar. Bisa berupa pujian ataupun permen agar suasana belajar menjadi lebih hidup dan menarik. Selesai mengategorikan gambar menjadi example dan non example, guru mengambil semua gambar example budaya di Indonesia, kemudian menjelaskan nama etnis yang memiliki budaya sesuai gambar. Peserta didik diajak untuk mencatat point penting dari gambar yang sudah ditampilkan oleh guru.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Setelah semua gambar dijelaskan, guru bisa bertanya kepada peserta didik mengenai gambar-gambar yang merupakan contoh budaya Indonesia dalam permainan tebak-tebakan. Tentunya tidak lupa berikan reward kepada peserta didik yang menebak gambar dengan benar. Pembelajaran pasti menyenangkan dan tujuan utama pembelajaran juga akan tercapai. Dalam pembelajaran, guru dapat menyisipkan karakter penting bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beragam, yaitu sikap toleransi dengan berupa menghargai perbedaan, menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa, dan selalu tolong menolong dengan sesama manusia walaupun berbeda.

Kelebihan metode example non example antara lain peserta didik bisa memahami konsep, peserta didik mendapatkan kesempatan untuk menjelajahi karakteristik dari suatu konsep, peserta didik dapat mengembangkan ketrampilan untuk berpikir kritis ketika melihat gambar dan peserta didik dapat mengutarakan apa yang dipikirkan setelah menganalisis gambar. Sedangkan kelemahan metode ini adalah waktu yang digunakan relatif panjang dan tidak semua materi yang diajarkan sesuai dengan model ini.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Dari kelebihan dan kekurangan ini, tetaplah example non example membantu siswa kelas III SDN 01 Kuta, Kecamatan Bantarbolang, Kabupaten Pemalang dalam pembelajaran tema 8 Praja Muda Karana. Peserta didik sangat antusias dan proses belajar mengajar berjalan efektif. (*)