SURAKARTA, Joglo Jateng – Dokter Kesehatan Kejiwaan dari Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Surakarta mengingatkan betapa pentingnya menjaga kesehatan dari narkotika, psikotropika dan zat adiktif (Napza) yang berakhir buruk. Apabila berkelanjutan, penanganannya akan sulit dan membutuhkan waktu yang lama.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa RSJD Surakarta, dr. Sukaina, Sp.KJ menjelaskan, penggunaan Napza dalam dosis berlebih juga bisa menyebabkan muntah, mual, rasa takut yang berlebih, serta gangguan kecemasan. Apabila pemakaian berlangsung lama, bisa mengakibatkan dampak yang lebih buruk seperti gangguan mental, depresi, serta kecemasan terus-menerus.
“Sehingga tak heran apabila Napza dilarang di Indonesia karena menyebabkan efek domino. Selain kesehatan raga, jiwa juga menjadi sasarannya, dalam hal ini gangguan mental sampai depresi,” paparnya saat ditemui Joglo Jateng di RSJD Surakarta, Kamis (15/9).
Bahkan, menurutnya, penggunaan Napza juga menyebabkan gangguan sosial, apabila pengguna telah di taraf candu. Dimensi hayalan berbaur dengan kenyataan, hingga memunculkan penyakit skizofrenia.
“Depresi berkepanjangan membuat pengguna tidak bisa membedakan mana yang nyata dan tidak. Akibatnya yang muncul adalah skizofrenia. Ini serius, kerap terjadi kasus bunuh diri karena ini,” terang dia.
Ia melanjutkan, jika candu dirasa telah menyatu dalam diri, pihaknya menganjurkan untuk periksa ke dokter kejiwaan. Di antaranya RSJD Surakarta yang memiliki fasilitas lengkap untuk menanganinya.
“Di RSJD akan diperiksa dan diberikan hasil, apabila hasilnya menunjukkan kecanduan akut, maka akan dirawat inapkan di RSJD. Akan tetapi, jika masuk di taraf sedikit candu, maka diperkenankan kembali ke rumah dengan metode rawat jalan,” jelasnya.
Kepada pengguna Napza, ia berpesan, agar tidak sungkan bercerita kepada orang yang professional di bidangnya, dalam hal ini kesehatan jiwa. Supaya mempercepat masa penyembuhan. Di samping itu, circle pertemanan dan dukungan orangtua juga berpengaruh terhadap kesehatan mental. (cr2/gih)










