Tips Mengajar Siswa Kelas 1 SD

Oleh: Rinawati, S.Pd.SD
SD Negeri 01 Kemuning, Kec. Ampelgading, Kab. Pemalang

DALAM beberapa kejadian di ruang kelas, guru sedang menjelaskan mata pelajaran, namun tiba-tiba ada anak yang menangis karena diganggu oleh teman sebelahnya. Guru tersebut mendekati anak yang sedang menangis memintanya untuk diam, sekaligus mengingatkan anak yang mengganggu agar tidak mengulangi perbuatannya. Anak-anak lain yang merasa tidak diperhatikan guru mulai berjalan-jalan meninggalkan tempat duduknya, ada juga yang mengganggu teman-temannya. Guru meminta anak yang berjalan-jalan agar kembali duduk di tempatnya semula.

Selamat Idulfitri 2024

Tetapi, suasana kelas menjadi semakin ribut karena anak-anak yang lebih besar justru mulai bertengkar dengan anak-anak lain. Maka agar pembelajaran di kelas bisa berjalan efektif, baik dan menyenangkan bagi anak didiknya, guru SD Negeri 01 Kemuning melakukan beberapa cara. Di antaranya adalah mengajar dengan kesabaran tingkat tinggi.

Bagi sebagian besar guru SD, mengajar kelas 1 merupakan tugas yang amat berat. Pasalnya, tugas ini membutuhkan kesabaran tingkat tinggi dalam pelaksanannya agar berhasil. Jika mengajar di kelas tinggi guru dapat berkonsentrasi ke arah pencapaian tujuan pembelajaran secara cepat, di kelas 1 para guru harus lebih bersabar. Siswa kelas 1 memang masih sangat terpengaruh dengan situasi rumah, dengan penuh kemanjaan, dan sangat riskan apabila guru melakukan kesalahan, baik ucapan maupun tindakan. Bukan karena kesalahan guru akan mendapatkan protes dari siswa, melainkan kesalahan ini akan dibawa dan berpengaruh pada kehidupan siswa hingga dewasa.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Misalnya dalam proses pembelajaran. Siswa kelas 1 yang rata-rata masih polos akan mengalami kesulitan mengikuti proses pembelajaran, apabila guru menerapkan model pembelajaran yang membutuhkan keseriusan. Di sisi lain, guru juga akan mengalami kesulitan mencapai tujuan pembelajaran apabila hanya mengikuti kemauan siswa yang notabene masih suka bermain. Akibatnya, proses pembelajaran cenderung gagal, dalam artian guru tidak bisa memenuhi kebutuhan siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran.

Bagaimana cara mengatasi hal tersebut? Upaya yang harus dilakukan guru adalah mengemas keseriusan belajar dalam permainan sehingga tidak terkesan serius oleh siswa. Yaitu guru perlu kreatif dalam mengelola kegiatan pembelajaran, agar tampak oleh siswa sebagai sebuah permainan besar yang menarik untuk diikuti.

Baca juga:  Pengaruh Pendidikan Orang Tua terhadap Minat Menyekolahkan Anak

Guru perlu banyak belajar dari siswa. Apa yang membuat siswa gembira, bagaimana dominasi indera belajar mereka, tema apa yang cocok untuk menyajikan materi pelajaran tertentu. Kemudian siapa yang bisa menjadi pemimpin kelompok, siapa yang sudah berani mengekspresikan diri, dan siapa pula yang masih takut. Semua jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut diinventarisasi, dianalisis, untuk kemudian dijadikan acuan dalam penyusunan rencana pembelajaran.

Selain kesabaran, guru juga perlu menanamkan disiplin kepada siswa kelas 1. Guru harus memastikan bahwa disiplin itu bukan sesuatu yang membosankan atau menakutkan. Disiplin adalah kebutuhan. Sebab itu, penanamannya harus benar-benar sesuai dengan dunia anak.

Baca juga:  Implementasi Model Problem Based Learning untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa

Sanksi diberikan kepada yang melanggar, namun pemberian sanksi harus menjadikan siswa menyadari bahwa apa yang dilakukan bermanfaat bagi dirinya dan bagi teman lain. Misalnya, siswa tidak bisa duduk tenang ketika pelajaran di kelas. Dalam hal ini guru perlu berhenti sejenak, menunggu siswa duduk kembali. Sampaikan kepada anak-anak bahwa bapak atau ibu guru senang jika anak-anak duduk dengan rapi ketika proses pembelajaran berlangsung. Atau ubah strategi pembelajaran yang memungkinkan anak-anak bisa berdiri atau berjalan-jalan ketika proses pembelajaran, agar anak-anak terpacu semakin rajin belajar .

Semoga tulisan ini bisa menjadi inspirasi bagi bapak/ibu guru khususnya pengajar kelas I SD untuk mencoba memadukan kolaborasi model pembelajaran yang ada. Model yang dipilih tentu disesuaikan dengan kondisi siswa, dan diharapkan dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajarnya siswa. (*)