WALAUPUN pernah diremehkan, tak membuat Kurnia Heinz Dwi Aulia Ristanto (17) menyerah. Siswi kelas 12 salah satu SMA di Kabupaten Pemalang ini tetap bersemangat untuk melestarikan seni tari tradisional di era sekarang. Meskipun, banyak anak muda di usianya lebih menyukai seni tari modern.
Gadis yang lahir di pesisir Pemalang ini menceritakan, awal dirinya tertarik dengan seni tari tradisional saat dirinya masih SD. Namun tidak lama kemudian, guru yang melatihnya mengundurkan diri, dan ia juga ikut berhenti. Dari bekal pengalamannya saat itulah di masa pandemi beberapa waktu lalu, ia belajar di salah satu sanggar. Hingga akhirnya ia sering diundang untuk menari di acara-acara pemkab.
“Waktu pandemi dari pada tidak ada kegiatan saya coba ikut kelas menari, dari situ ternyata menarik dan akhirnya sering diundang pemkab untuk mengisi tari penyambutan tamu,” terangnya, Minggu (4/12/22).
Tekadnya melestarikan budaya tradisional ini tidak selalu bejalan mulus. Sebab tak jarang ada beberapa teman ataupun orang lain yang meremehkannya. Namun, dirinya tak pernah ambil pusing omongan-omongan orang itu. Ia bahkan mengubah hal negatif tersebut menjadi penyemangat dirinya untuk lebih melestarikan dan mengenalkan tari tradisional kepada anak muda lainnya.
“Pernah diremehkan dengan kalimat penari tradisional kolot atau sana jadi sintren aja. Tapi, itu bukan penghalang bagi saya, melainkan menjadi lebih bersyukur dalam menari tradisional. Karena saya dapat bertemu dengan orang-orang penting, menyambut mereka dengan tarian tradisional itu, entah itu Pak Bupati Pemalang beserta jajarannya,” ucapnya.
Untuk melestarikan seni tradisional, ia menitipkan pesan kepada seluruh generasi muda, terutama teman sebayanya. “Mereka merupakan harapan masa depan bangsa, maka dari itu generasi milenial ini wajib membangun kesadaran diri untuk melestarikan dan menjaga warisan budaya Indonesia. Karena saat ini sedikit demi sedikit mulai luntur. Jadi kalau bukan kita yang melestarikan siapa lagi,” ujarnya. (fan/gih)










