SEMARANG, Joglo Jateng – Sebanyak 2.358.970 KK telah menerima bantuan pangan tahap dua berupa beras bulog gratis 10 kilogram selama tiga bulan terakhir. Sementara sejuta warga Jateng lainnya, menerima penyaluran bantuan pangan dari Kanwil Bulog Yogyakarta.
Pimpinan Bulog Jateng Ahmad Kholisun mengatakan, tahap pertama dan kedua telah disalurkan 100 persen untuk keluarga penerima manfaat (KPM). Tahap pertama yakni April, Mei, Juni, dan tahap kedua yakni selama Juli, Agustus, dan September.
“Ada 3 juta, tetapi yang dilayanai 2 juta saja, sisanya dilayani oleh Kanwil Bulog Jogja. Banyumas sama Kedu itu ikut Kanwil Jogja. Kami mengeluarkan untuk 2.358.970 penerima bantuan pangan sebanyak 10 kilogram selama 3 bulan,” tutur Kholisun, Selasa (3/10/23).
Sementara itu memasuki penyaluran bantuan pangan tahap selanjutnya, Kanwil Bulog Jateng masih mengatur jadwal distribusi untuk para penerima. Ia menyebut jumlah penerima pada tahap berikutnya tak jauh berbeda dengan tahap kedua.
“Sedangkan alokasi bulan Oktober saat ini sedang dalam proses penjadwalan koordinasi bulog transporter. Insyaallah 5 Oktober sudah ada kabupaten/kota yang menyalurkan bantuan pangan alokasi Oktober,” ungkapnya.
Lebih lanjut, untuk program stabilisasi pasokan dan harga pangan (SPHP) 2023 pihaknya menyalurkan sebanyak 67 ribu ton beras.
“Yang kita salurkan melalui pedagang pedagang pengecer pasar tradisional, warung klontong, retail modern, juga kerjasama dengan pemda khususnya dinas ketahanan pangan. Melakukan GPM. Gerakan pangan murah,” jelasnya.
Ia menambahkan, jumlah pengecer yang telah melaksanakan SPHP kini sebanyak 756 kios yang tersebar di 133 pasar di 25 kabupaten/kota di Jateng yang dilayani Perum Bulog Kanwil Jateng.
“SPHP ini akan terus kita lakukan sampai dengan akhir tahun. Kita upayakan untuk masif lagi, tidak hanya di titik tersebut, tapi akan kita lakukan di titik-titik masyarakat memang membutuhkan SPHP,” imbuhnya.
Mengingat kebutuhan beras masyarakat kurang mampu terhadap beras telah dipenuhi, pihaknya berharap, bantuan pangan dan SPHP mampu mengendalikan harga pangan di pasaran.
“Kondisi ini akan mengurangi permintaan mereka terhadap beras, dengan adanya ini permintaan akan menurun, harga akan turun. Menjaga cadangan stok pangan, menjaga keterjangkauan pangan, ketiga stabilisasi, ini kita memprioritaskan pengadaan dari petani dalam negeri. Kalau ternyata pengadaan petani dalam begeri kurang, maka Bulog melakukan impor,” ucapnya. (luk/gih)










