Kudus  

Lesbumi Jadi Ruang Berkarya Seniman Nahdliyin

TAMPIL: Lesbumi NU Kudus mengajak generasi muda untuk ikut melestarikan seni kebudayaan melalui berbagai inovasi, salah satunya di kegiatan dialog Kembang Kanthil yang diiringi seni musik tradisional. (UMI ZAKIATUN NAFIS/JOGLO JATENG)

NAHDLATUL Ulama (NU) menjadi organisasi Islam terbesar di Indonesia yang bergerak di berbagai bidang, tidak terkecuali seni. Lesbumi (Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia) dibentuk pada tahun 1962. Badan otonom NU ini menghimpun berbagai kalangan tokoh. Mulai dari pelukis, bintang film, pemain pentas, dan sastrawan.

Di Kabupaten Kudus, Lesbumi telah aktif dalam memberikan ruang untuk para seniman agar dapat berkarya dan menampilkan bakatnya. Sejak kembali terbentuknya pada 2019 lalu, Lesbumi PCNU Kudus melebur dengan tradisi yang ada di Kabupaten Kudus.

Ketua Lesbumi Kudus, Abu Hasan Asy’ari menceritakan peradaban Lesbumi di tahun 1965. Dahulu, tokoh aktivis Lesbumi melakukan gerakan dakwah Islam Teater Kampung yang dinamai Al Huda, para aktivis Lesbumi dengan cakap memerankan cerita ulama. Seperti Umar bin Khattab, Dewi Masyitah, dan lainnya.

“Ini menurut cerita mbah-mbah saya. Dulu tokoh aktivis Lesbumi Kudus hanya laki-laki. Jika dalam teater kampung tersebut ada tokoh perempuan maka yang memerankan juga laki-laki.  Gerakannya untuk men-counter pentas di kampung-kampung,” jelas Abu kepada Joglo Jateng saat ditemui di kediamannya, belum lama ini.

Sebenarnya, lanjut dia, Lesbumi Kudus merupakan komunitas yang sudah eksis di era 90-an. Akan tetapi karena ada beberapa konflik yang menyangkut politik pada tahun 2000, Lesbumi Kudus sempat hilang eksistensinya.

Maka, sebagai upaya untuk mengembalikan eksistensi Lesbumi, beberapa aktivis membuat gebrakan baru dalam gerakan-gerakan dakwahnya. Hingga saat ini, Abu dan kawan Lesbumi Kudus masih melakukan aktivas seni kebudayaan di kecamatan hingga desa-desa. Satu di antaranya dinamai Kembang Kanthil (Kanthi Laku, Tansah Kumanthil).

Ketua Lesbumi Kudus, Abu Hasan Asy’ari
Ketua Lesbumi Kudus, Abu Hasan Asy’ari.

 

“Istilah Kembang Kanthil diambil dari bahasa Jawa yaitu nama suatu bunga, kalau dalam bahasa Indonesia disebut bunga cempaka,” jelasnya.

Kegiatan ini, kata dia, berisikan ngaji budaya atau sejenis berdiskusi tentang fenomena yang ada dimasyarakat. Dalam kegiatan ini juga, Lesbumi Kudus menyajikan dakwah interaktif di iringi suluk atau syair-syair modern beserta alat musik tradisional dan orkestra.

Lesbumi Kudus juga melestarikan pembacaan karya sastra seni puisi bernama Ligusty Poeziya. Dengan fokus mengembangkan sastra di ruang publik bersama masyarakat di kalangan generasi muda.

“Sastra puisi yang kami bawakan tidak melulu berkaitan dengan hal percintaan. Tetapi berkreasi dengan sastra untuk mengkritik politik, memperingati hari bersejarah di Indonesia dan lain sebagainya,” ungkap Abu yang juga Ketua PP IPNU Bidang Jaringan Sekolah 2019-2022.

Tidak hanya berpuisi, Lesbumi Kudus juga memiliki gerakan mendongeng dengan sasaran kalangan anak-anak. Bertajuk Dongeng Kita yang merupakan salah satu wadah dalam berdakwah yang menyenangkan bagi kalangan anak-anak.

“Kegiatan ini  dilakukan  dengan menceritakan  peristiwa  sejarah  islam  menggunakan  berbagai  properti  yang  disukai anak-anak layaknya pendongeng. Dengan hal tersebut anak-anak akan lebih memahami pesan dakwah dan mudah mengingatnya,” ungkapnya.

Dalam seni musik, Abu dan kawannya membuat wadah bernama Sangita Lesbumi Music. Mengajak anak muda dan mahasiswa untuk berdialog kebudayaan dengan sisipan musik modern dan seni rebana.

“Kesemua program itu kami selalu lakukan publikasi melalui media sosial. Didukung dengan Podcast Jagong Lesbumi yang berisi cerita dan peninggalan peradaban Islam Kudus,” demikian kata dia. (cr1/adf)