BANTUL, Joglo Jogja – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Bantul menyebutkan bahwa pemenuhan kebutuhan ayam potong Bantul didatangkan dari luar daerah. Hal ini dikarenakan Bantul tidak memiliki peternak yang membudidayakan ayam potong.
Kepala Dinas DKPP Joko Waluyo menyampaikan, kebutuhan ayam potong di Bantul relatif cukup besar. Untuk itu, guna memenuhi permintaan tersebut, setidaknya terdapat kurang lebih 500 titik tempat pemotongan ayam yang tersebar di berbagai lokasi.
“500 titik pemotongan ayam ini memiliki skala produksi yang sangat beragam. Mulai dari pemotongan skala kecil yang hanya beberapa ekor saja, sampai dengan yang ribuan ekor,” ungkapnya.
Sementara itu, pihaknya menyebut bahwa untuk memenuhi kebutuhan tersebut Bantul masih bergantung pada ayam ekspor dari luar daerah. Hal ini disebabkan di Kabupaten Bantul tidak memiliki pengusaha yang bergerak di bidang budidaya ayam broiler atau ayam potong.
“Jadi seluruh kebutuhan ayam potong itu didatangkan dari luar Bantul. Ada yang dari Wonosari Gunungkidul, Kulonprogo, Sleman, dan sebagainya,” ujarnya.
Lebih lanjut, pihaknya pun tidak bisa memberikan tanggapan lebih terkait dengan naiknya harga ayam yang terjadi belakangan ini. Kenaikan harga ayam potong mulai terjadi sebelum bulan Ramadan dan terus merangkak hingga sekarang. Bahkan sudah tembusan angka Rp40 ribu rupiah.
“Hal itu hukum ekonomi, karena permintaan tinggi sedangkan barang terbatas. Sehingga, harganya pun juga mengikuti,” pungkasnya. (nik/abd)










