KUDUS, Joglo Jateng – Sebanyak 200 lebih karya epic 30 seniman terpajang dalam Pameran Seni Rupa dan Kaligrafi Nasional 2024 Tecno Park Museum Kretek Kudus.
Bertema ‘Berkah Ramadan’, pameran yang dibuka pukul 08.00 sampai dengan 21.00 ini berlangsung hingga 2 April 2024. Sembari mengisi waktu luang atau menunggu berbuka, masyarakat bisa memanjakan mata dengan pajangan karya yang indah nan elok tersebut.
Dalam pembukaan pameran, Penjabat Bupati Kudus, HM Hasan Chabibie turut mengapresiasi pameran kaligrafi ini. Ia mengatakan, di momen Ramadan ini masyarakat bisa ngabuburit sekaligus melihat keindahan seni rupa dan kaligrafi yang dipamerkan.
“Sesuai dengan tema, pameran ini akan semakin mempertebal makna Bulan Suci Ramadan. Apalagi ada seni kaligrafi sebagai karya yang disuguhkan,” katanya.
Menurut Hasan, kaligrafi merupakan hasil dari kontemplasi diri para seniman. Bahkan, karya seninya bisa menyentuh ruang terdalam batiniyah seseorang. Ia berharap agar pameran tersebut bisa menjadi daya tarik wisata religi di wilayahnya.
“Harapannya (pameran seni, Red) menjadi salah satu daya tarik untuk wisata religi sekaligus literasi visual bagi kita semua. Ini menjadi satu trobosan wisata religi baru. Yang bisa dinikmati masyarakat dan hitung-hitung mengharapkan hidayah dan berkah Ramadan,” ungkapnya.
Perwakilan Pesantren Seni Rupa dan Kaligrafi Al-Qur’an (PSKQ), Muhamaad Assiry menjelaskan, pameran ini guna menambah edukasi wisata seni religi di momen Ramadan dan syiar seni Islam yang adiluhung.
“Kami berkolaborasi dengan Sanggar Omah Kayu. Seperti temanya, semoga tujuan mulia kami mengadakan pameran kaligrafi di bulan Ramadan semakin berkah,” jelasnya.
Pihaknya menjelaskan, saat ini seniman kaligrafi dibina dan dibimbing melalui PSKQ IT. Yaitu sebuah pondok pesantren seni rupa dan kaligrafi Al-Quran modern berbasis IT yang beralamat di Kecamatan Undaan, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia.
“Cabangnya ada di Tenggeles Menawan Jogja Purwodadi Bogor dan Thailand. Karena basisnya tahfidz dan technopreuner, santri tidak hanya mengaji tetapi juga meningkatkan skill melalui olah kebun, perikanan, pengembangan IT laser cutting dan kaligrafi,” jelasnya.
Ia pun turut menunjukkan hasil karyanya. Diantaranya lukisan kontemporer yang terinspirasi dari huruf Alif sebagai prinsip hidup RMP Sosrokartono. Dan lukisan berukuran 3 x 2,5 yang merupakan rangkuman Alquran yang digabung menjadi satu.
“Lukisan ini memuat akumulasi seluruh kandungan dalam Alquran. Baik fenomena sosial kebudayaan, seni dan iptek. Dan masa pembuatannya mulai 2018 dan rampung 2024,” katanya.
Perihal pemilihan warna, ia terinspirasi dari figur Nabi Muhammad SAW. Pemimpin yang memberikan warna terang bagi kehidupan yang semula gelap. Di bagian atas lukisan ia memilih warna muram sebagai simbol kegelapan dan dibagian bawah ia memilih warna jingga terang sebagai simbol cahaya.
“Untuk mencari ide butuh waktu lama. Termasuk pemilihan warna harus ad nilai filosofi dan psikologi di dalamnya. Tidak bisa asal,” tandasnya.
Salah satu pengunjung, Devita, turut senang adanya pameran kaligrafi di Museum Kretek. Ia mengungkapkan kesukaannya pada sajian tafsir visual yang beragam dalam pilihan ayat Al Quran, pendekatan visual, serta hasil akhir sebagai karya seni.
“Pameran ini mengajak kita untuk lebih memperhatikan ekspresi estetik Islam yang indah, damai dan universal,” ungkapnya.
Menurutnya, seni kaligrafi adalah seni yang mengandung syiar Islam. Dan beberapa karya yang dipamerkan merupakan cermin jejak olahan dari revolusi teknologi visual.
“Harapannya itu bisa menjadi pengingat bagi kita semua untuk meneladani, untuk menjalankan seluruh sunahnya, dan bisa mendorong peningkatan derajat ketaqwaan bagi kita semua,” harapnya. (cr1/fat)










