Kudus  

MCB Sangiran Melakukan Konservasi 35 Fosil

PENYAMBUNGAN: Petugas MCB sedang menyatukan tulang-tulang fosil di Museum Patiayam, belum lama ini. (DYAH NURMAYA SARI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Museum dan Cagar Budaya (MCB) unit Sangiran melakukan konservasi temuan fosil yang ada di Museum Patiayam Kudus pada 13-16 Mei. Hal ini, bertujuan untuk melakukan pemeliharaan peralatan dan budidaya cagar budaya dapat dilestarikan dalam jangka waktu yang lama agar bisa dinikmati oleh generasi selanjutnya.

Ketua Konservasi Museum dan Cagar budaya Unit Sangiran, Nina Iswati mengatakan, tahapan dalam konservasi fosil ini ada rekam data, dokumentasi awal, konservasi, dokumentasi akhir, database. Atau biasanya melakukan perawatan, penggabungan dan penentuan jenis fosil.

Baca juga:  Satu Calon Jemaah Haji Asal Kudus Batal Berangkat

“Sebelum konservasi melakukan ini dilakukan rekam data dulu, yang meliputi kondisi awal fosil, berat awal, warna, metode yang digunakan, bahan dan alat,” terangnya.

Dia menjelaskan, pada tahap dokumentasi sudah dilakukan sebanyak 35 rekam data. Yakni 35 fosil, lalu setelah selesai, masuk ke foto awal yang dilandasi dengan background warna biru.

“Untuk jenis fosil kali ini ada Stegodon, famili Cervidae (keluarga rusa), famili Bovidae (keluarga sapi), hiu, dan badak,” sebutnya.

Alat yang digunakan untuk reservasi berupa timbangan, untuk menimbang berat awal, hardness tester untuk mengukur kekerasan fosil. Kemudian ada Munsell Soil Color Book untuk mengukur warna fosil, kuas, tatah, dendaltus. Setelah konservasi, nantinya ada inventarisasi koleksi terkait data jenis fosilnya, fragmen, size, dimensi, penemu, kapan ditemukan, lokasi dan informasi lainnya.

Baca juga:  TMMD Jalan dan Jembatan di Desa Puyoh Telah Rampung

Sementara bahan konservasi, tambah dia, menggunakan bahan kimia sintetik. Yaitu menggunakan penguat larutan b-72 dengan konsentrasi 4 persen. Kemudian, penguatan kimia dari bahan alam yaitu memakai jeruk nipis atau ekstrak, alteko, alkohol, aseton.

“Kondisi fosil disini cukup terawat. Sedangkan untuk temuan baru membutuhkan konsentrasi lebih lanjut,” tuturnya. (cr3/fat)