Keluar dari Keriuhan Jadi Solusi Kesehatan Mental

Psikolog Semarang, Probowatie Tjondronegoro. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

SEMARANG, Joglo Jateng – Keluar dari lingkungan yang riuh menjadi solusi untuk menjaga kesehatan mental seseorang usai mengikuti aksi demonstrasi. Hal itu bisa meningkatkan kekuatan mental seseorang untuk terus menjalani kehidupan sehari hari.

“Tipsnya itu merilis mental dengan keluar dari lingkungan atau suasana yang tidak ada riuhnya seperti jalan-jalan santai. Jadi power (kekuatan, Red.) mentalnya di nol-kan dari awal. Tetapi kembali lagi itu tergantung dari masing-masing individu bagaimana cara mengatasi masalah mentalnya,” ucap Psikolog Semarang, Probowatie Tjondronegoro saat dihubungi Joglo Jateng, Rabu (11/9/24).

Lebih lanjut, ia menerangkan, tidak semua peserta aksi demo tahu betul apa isu yang disuarakan. Ada juga para pendemo yang sengaja ikut aksi unjuk karena ingin melampiaskan emosinya dengan cara berteriak. Entah itu persoalan pribadi atau ada hal lainnya.

“Dia bisa meluapkan semua emosinya dengan bebas, apakah itu emosi tertuju pada masalah (politik, Red.) atau dia punya masalah (pribadi, Red.). Semua tindakan pasti ada risiko seperti bergesekan oleh banyak orang. Tetapi apakah mereka memperhitungkan hal itu,” kata Probo.

Orang yang biasanya ikut aksi demo, kata Probo, ada kemungkinan mengalami trauma pada mentalnya. Namun, hal itu tergantung tingkat resiliensi daya tahan masing-masing orang.

“Masalah sama, tetapi daya tahan orang beda. (Cara, Red.) sembuhnya beda, tetapi pasti ada sesuatu yang membekas pada dirinya seperti trauma dan kaget itu tergantung ekspetasinya. Kalau dia menganggap demo itu suatu kesenangan itu menjadi hal yang biasa. Tetapi kalau sebaliknya justru membuat orang menjadi trauma dan merasa dirinya rusak,” pungkasnya. (int/adf)