Jepara  

Dewan Minta Pemkab Jepara Evaluasi Pengecer LPG 3 Kg

MENUNGGU: Ilustrasi warga mengantre hendak membeli gas LPG 3 kg di Jepara, beberapa waktu lalu. (ISTIMEWA/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jepara, Latifun minta Pemerintah Kabupaten (Pemkab) megevaluasi pengecer gas LPG 3 kg. Sebab hingga saat ini, masih ditemukan beberapa daerah langka kebutuhan pokok tersebut.

Dia mengaku telah menerima beberapa laporan dari masyarakat tentang kelangkaan LPG tersebut. Beberapa daerah masih mengalami sepinya stok di tingkat pengecer, sekalipun ada sudah di-booking orang lain. Warga yang datang terpaksa pulang dengan tangan hampa.

Berangkat dari hal tersebut, Latifun berharap kepada Pemkab Jepara supaya mengevaluasi pengecer. Tujuannya agar meminimalisir permainanan gas LPG di tingkat bawah dan masyarakat dapat peroleh haknya dengan mudah.

“Evaluasi kepada para pengecer itu harus. Antisipasi permainan harga. Atau mungkin dari pemerintah daerah ke pusat bisa meningkatkan stok LPG di Jepara,” papar Latifun kepada Joglo Jateng, Kamis (10/10/24).

Fenomena kelangkaan gas LPG yang masih terjadi dialami oleh Yuni. Warga Kecamatan Kembang itu mengaku, untuk memperoleh gas harus melintas ke luar kecamatan. Sebab di daerahnya tergolong minim stok gas LPG 3 kg. Kendatipun ada, biasanya dipatok dengan harga Rp 30 ribu.

Sementara itu, warga Kecamatan Mayong, Pratama mengungkapkan kekesalannya atas kelangkaan gas LPG 3 kg. Menurutnya, di tengah minimnya ketersediaan, kebutuhan pokok itu mengalami lonjakan harga.

“Di sini masih minim, tapi tidak lama terus ada. Untuk harga memang di luar nurul (nalar red), mencapai Rp 28 ribu,” ungkap Pratama.

Sebelumnya pada bulan lalu, Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Setda Jepara Ferry Yuda menyampaikan, Pemkab Jepara memastikan stok ketersediaan gas melon sampai tingkat bawah aman. Dirinya menyebutkan, kuota harian untuk Jepara sekitar 34-35 ribu tabung.

Jepara mendapat tambahan alokasi fakultatif untuk elpiji melon sebanyak 47.040 tabung yang telah di distribusikan pada Sabtu (14/9) hingga Selasa (17/9). Selain itu, alokasi untuk Karimunjawa juga ditambah kuotanya. Dari yang awalnya 2 ribu tabung menjadi 2.240 tabung per pekan.

“Kemarin memang sudah ada laporan terkait gas ya. Kalau kuota itu masih sama, tapi Pak Pj Bupati dan Pak Sekda sudah berkirim surat untuk penambahan kuota. Kami pastikan tidak ada kelangkaan atau kekurangan,” jelas Ferry, Sabtu (14/9).

Ia mengatakan, Bagian Perekonomian telah menerjunkan tim ke lapangan untuk melakukan monitoring dan evaluasi. Namun, tim masih menemukan ketersediaan gas melon di pangkalan-pangkalan.

Ferry menganggap, isu kelangkaan gas, muncul karena kekhawatiran masyarakat terhadap naiknya Harga Eceran Tertinggi (HET). Yang semula Rp 15.500 menjadi Rp 18 ribu per tabung. Padahal, kenaikan HET tersebut hanya berlaku di sampai di tingkat pangkalan.

“Kalau di pangkalan itu harganya Rp 18 ribu per tabung. Jadi, sebenarnya tidak terlalu berpengaruh,” terangnya.

Lebih lanjut, Ferry mengimbau kepada masyarakat untuk tidak panik buying dalam menghadapi gas. Sebab, Pemkab Jepara memastikan ketersediaan gas tetap aman. “Masyarakat jangan panic buying. Kami berharap masyarakat yang mampu atau ekonomi nya kelas atas bisa beralih ke tabung yang non nun subsidi,” pungkasnya. (map/gih)