JEPARA, Joglo Jateng – Industri furnitur nasional turut mengalami dampak melemahnya pasar global akibat situasi geopolitik yang terjadi antara perang Rusia dan Ukraina. Salah satunya industri furnitur di Kabupaten Jepara.
Inflasi yang disebabkan oleh kondisi resesi menyebabkan turunnya daya beli konsumen di negara-negara importir yang terdampak perang tersebut. Akibatnya, target pasar diubah dari Amerika dan Eropa bergeser ke Dubai dan Afrika.
Salah satu pengusaha furnitur sekaligus ketua panita Jepara International Furniture Buyer Weeks (JIF-BW) 2025, Muhammad Alhaq mengungkapkan, kondisi geopolitik masih mengkhawatirkan. Penurunan ekspor ke Amerika-Eropa menurun drastis.
“Ekspor ke Amerika-Eropa masih jalan. Tapi semakin sedikit. Karena perang masih terjadi,” ungkap Alhaq saat dikonfirmasi, Selasa (11/3/25).
Kata Alhaq, sejak pertengah tahun 2024 dampak negatif dari perang itu turut dirasakan eksportir furnitur Jepara. Di tambah, perang antara Palestina dan Israel juga menjadi pukulan telak.
Akibatnya, saat itu jalur kapal di kanal Swiss diblokir dan diganggu. Gangguan tersebut memaksa eksportir menempuh pelayaran semakin jauh dari jalur normal. Yaitu harus memutar ke Tanjung Harapan Afrika yang berimbas pada melebarnya waktu pengiriman hingga dua kali lipat.










