BANJARNEGARA, Joglo Jateng – Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) tengah menjadi sorotan sebagai penggerak ekonomi desa yang penting dan diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. BUMDes diharapkan mampu membantu mengembangkan potensi ekonomi desa, meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kemiskinan dengan memanfaatkan sumber daya lokal.
“BUMDes harus memiliki peran krusial dalam meningkatkan ekonomi lokal. Tentunya dengan memanfaatkan potensi desa, seperti pariwisata, pertanian, Perikanan dan perkebunan atau potensi lokal lain yang bisa dikembangkan di setiap desa,” kata Bupati Banjarnegara Amalia Desiana, belum lama ini.
Agar bisa terlaksana dengan baik, pihaknya meminta BUMDes untuk berkolaborasi dengan koperasi desa yang akan segera dibentuk oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banjarnegara. Pemkab akan hadir mendampingi setiap langkah dari masing-masing desa, karena dalam pelaksanaannya, tidak bisa memukul rata melakukan kesamaan potensi dari jenis masing-masing BUMDes.
“Setiap desa itu memiliki potensi yang berbeda-beda, baik dari segi sumber daya alam, sumber daya manusia, maupun budaya. Jadi BUMDes perlu melakukan pemetaan potensi lokal untuk menentukan jenis usaha yang paling tepat dan berpotensi sukses,” jelasnya.
Ia berjanji, akan mendampingi setiap BUMDes untuk menggali potensi yang bisa dikembangkan di setiap desa. “Diversifikasi usaha BUMDes itu bisa meningkatkan pendapatan asli desa (PAD) dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat,” tambahnya.
Sementara itu, Inspektur Banjarnegara Agung Yusianto mengatakan, workshop Tata Kelola BUMDes telah dilaksanakan di Sasana Bhakti Praja, belum lama ini, dalam rangka mendorong peningkatan pendapatan desa. Kegiatan itu diikuti 266 desa yang dibagi 7 angkatan, di mana setiap desa mengikutkan kepala desa dan ketua BUMDes.
Sementara itu, salah satu tujuan dari workshop ini adalah untuk memastikan pengelolaan BUMDes sesuai dengan regulasi. “Kami menghadirkan salah satu narasumber, yaitu best practice BUMDes dari salah satu BUMDes di Jawa Tengah dan DIY yang sudah berhasil dan beromzet miliaran rupiah. Semoga ini menghasilkan pengetahuan tidak hanya dari sisi regulasi teori, namun juga best practice,” tuturnya. (abd/sam)










