Kudus  

Semarak ‎Suronan Fest Hidupkan Perekonomian Jepangpakis

‎‎RAMAI: Suasana Suronan Fest di Desa Jepangpakis Kecamatan Jati Kudus. (ADAM NAUFALDO/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Suasana malam di Desa Jepangpakis, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, tampak lebih semarak dari biasanya. Ratusan warga berkumpul dalam rangkaian kegiatan Suronan Fest. Sebuah tradisi tahunan yang digelar bertepatan dengan datangnya bulan Suro atau Muharram.

‎‎Kegiatan tersebut bukan sekadar pesta rakyat. Akan tetapi juga sarat nilai sejarah, spiritualitas, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

‎‎Kepala Desa Jepangpakis, Sakroni mengatakan, Suronan Fest diangkat sebagai tema utama tahun ini. Kegiatan tersebut digelar untuk mengenang jasa empat tokoh pendiri Desa Jepangpakis.

‎Tokoh tersebut diantaranya Mbah Abdul Karim (Syekh Abdul Karim), Mbah Brojo Kusumo dan Mbah Buyut Rawi. Ada juga Mbah Abdul Karim (Syekh Abdul Karim) dan satu tokoh lain yang lokasinya berdekatan dengan area bazar.

‎‎“”Ini untuk mengingatkan warga bahwa desa ini punya sejarah. Kita wajib mendoakan para pendiri yang berjasa,” jelasnya.

‎‎Selain itu, bagian yang paling mencolok dari Suronan Fest adalah bazar rakyat yang menghadirkan lebih dari 100 lapak. Untuk jumlah pedagang pun mengalami peningkatan dibanding tahun sebelumnya yang hanya mencatat 70-an lapak.

‎‎“”Pedagangnya bukan cuma dari sini. Ada yang dari Jepara dan daerah sekitar. Kita tidak membatasi asal-usul, yang penting kegiatan ini bisa mendorong semangat berjualan dan membuka peluang usaha,” ujarnya.

‎‎Produk yang dijual pun beragam, mulai dari kuliner khas seperti cilok dan jajanan anak-anak, hingga pakaian, aksesoris, dan mainan. Pengunjung dari luar desa pun berdatangan, terutama saat malam puncak yang biasanya menjadi hari terpadat.

‎‎Menariknya, Suronan Fest bukan acara tunggal. Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian kegiatan keagamaan seperti ganti luwur, pengajian haul Mbah Abdul Karim, dan tartilan Al-Qur’an. Ada pula pentas seni oleh anak-anak TK, MI, hingga SD yang turut didukung dana dari APBDes.

‎‎“”Ini sudah tahun keempat, dan alhamdulillah selalu mengalami peningkatan. Tujuan utamanya adalah mempererat silaturahmi warga dan menggerakkan ekonomi desa,” ujarnya.

‎‎Ke depan, pihaknya juga merencanakan gelaran budaya lainnya, termasuk mendatangkan kesenian tradisional dari luar daerah. Semua itu menjadi upaya menjadikan Jepang Pakis sebagai desa yang tidak hanya kaya akan tradisi, tetapi juga mandiri dan produktif secara ekonomi. (adm/fat)