Tidak ketinggalan, warga RT 1 RW 1 Loram Wetan ikut ambil bagian. Mereka menampilkan atraksi kirab dengan ornamen ampyang khas, sekaligus memperkuat ikatan antarwarga dua desa bertetangga itu.
Menurutnya, partisipasi lintas desa seperti ini menjadi bukti bahwa Ampyang Maulid bukan sekadar tradisi. Tetapi juga ruang untuk mempererat silaturahmi.
”Alhamdulillah, antusiasme masyarakat luar biasa. Penonton senang karena pertunjukan disajikan rapi. Ada prajurit, tokoh Arya Penangsang, hingga tokoh sejarah Kudus lain yang biasa kita lihat di ketoprak atau di Youtube. Semua divisualisasikan dengan baik,” tambahnya.
Partisipasi kali ini menjadi yang kedua bagi kelompok warga Loram Kulon. Tahun sebelumnya, mereka meraih juara tiga harapan berkat pementasan bertema keraton. Motivasi itu yang membuat mereka kembali tampil, dengan dana swadaya dari masyarakat dua RT.
Selain sarat nilai budaya, acara ini juga membawa pesan damai di tengah dinamika sosial. Menurut penyelenggara, pengangkatan kisah Sunan Kudus dan Saridin bukan tanpa alasan. Meski dikenal sebagai panglima perang, Sunan Kudus tetap digambarkan sebagai tokoh yang mengutamakan kedamaian dan kebersamaan.
”Filosofi “ada air ada ikan” yang ditampilkan dalam teater menjadi simbol eratnya hubungan antar warga,” pungkasnya. (adm/fat)










