KUDUS, Joglo Jateng – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus mengakui capaian respons pendataan Sensus Ekonomi di daerahnya masih berada di posisi lima terbawah di Jawa Tengah.
Saat ini, Kabupaten Kudus menempati peringkat ke-30 dari 35 kabupaten/kota. Sementara itu, capaian tertinggi diraih oleh Kabupaten Wonogiri.
Kepala BPS Kabupaten Kudus Eko Suharto mengatakan, pihaknya telah menyiapkan strategi khusus.
Upaya ini dilakukan untuk meningkatkan cakupan pendataan dengan menyesuaikan waktu kunjungan petugas kepada masyarakat.
“Di level Kabupaten Kudus itu memang agak tertinggal, peringkat kelima terbawah se-Jawa Tengah, posisi 30 dari 35 kabupaten. Yang paling tinggi Kabupaten Wonogiri peringkat pertama,” ujarnya.
Menurutnya, kendala utama di lapangan adalah sulitnya menemui responden pada siang hari.
Sebab, sebagian besar warga bekerja, terutama mereka yang berprofesi di sektor industri rokok.
“Kalau siang kan biasanya ibu kerja di pabrik rokok, kalau bapaknya juga kerja yang lain, jadi siang itu agak susah ketemu,” ungkapnya.
Ia menegaskan akan mengubah pola jam kerja petugas untuk mengatasi kebuntuan tersebut.
“Tentunya kita akan mengoptimalkan terutama di sore hingga malam, dan juga hari libur, Sabtu-Minggu, mudah-mudahan bisa lebih maksimal,” tambahnya.
Eko mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Kudus untuk menerima kedatangan para petugas sensus.
Selain itu, masyarakat sangat diminta untuk memberikan informasi yang benar sesuai kondisi sebenarnya.
“Kami berharap pada seluruh masyarakat Kudus merespons dan mendukung. Terima petugas kami dengan baik, berikan informasi yang diminta oleh petugas, pertanyaan-pertanyaan direspons dengan baik,” imbaunya.
Ia memastikan semua data yang disetorkan warga kepada petugas sensus akan terjaga keamanannya.
“Kerahasiaan jawaban responden kami jamin,” pungkasnya. (uma/fat/rds)










