Menurut Heri, penguatan budaya lokal dalam pendidikan bukan sekadar mengenalkan kesenian atau bahasa daerah, tetapi membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga kearifan lokal dalam kehidupan sehari-hari.
Sekretaris DPD Gerindra Jateng ini juga mendorong agar pemerintah daerah melalui dinas pendidikan lebih serius menyusun kebijakan yang mendukung integrasi budaya lokal ke dalam kurikulum sekolah.
Selain itu, kerja sama lintas sektor, termasuk dengan lembaga kebudayaan, komunitas seniman, dan tokoh adat, dinilai penting untuk memperkaya materi dan metode pengajaran.
“Pendidikan yang berakar pada budaya sendiri akan melahirkan generasi yang tidak hanya pintar, tapi juga tahu jati dirinya, bangga pada daerahnya, dan siap menjadi agen perubahan yang berkarakter,” beber Heri.
Dalam forum ini, para peserta juga mengangkat sejumlah tantangan, seperti minimnya ruang bagi budaya lokal dalam kurikulum nasional, kurangnya materi ajar yang relevan, serta terbatasnya pelatihan bagi guru dalam mengintegrasikan budaya lokal dalam pembelajaran.
Menanggapi hal tersebut, Heri berkomitmen akan membawa aspirasi tersebut ke dalam forum legislatif sebagai bagian dari upaya memperkuat kebijakan pembangunan pendidikan berbasis kearifan lokal.
“Kami berharap langkah konkret dari forum ini dapat segera diterapkan di berbagai satuan pendidikan sebagai bentuk nyata pelestarian budaya sekaligus penguatan karakter generasi muda,” pungkasnya. (adv/gih)










