Kudus  

Menjaga Nyawa Wayang di Tengah Sepinya Regenerasi

TUNJUKKAN: Sutikno, menunjukkan dua wayang klitiknya, Kamis (6/11/25). (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

KUDUS, Joglo Jateng – Hari Wayang Nasional tahun ini disambut dengan kegelisahan di kalangan pelaku seni tradisi. Di Kudus, keresahan itu mewujud pada sosok Sutikno (49), satu-satunya dalang wayang klithik dari Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus yang masih bertahan di tengah kian sepinya minat generasi muda menekuni dunia pedalangan.

“Sekarang sudah jarang orang nanggap wayang,” ujarnya, Kamis, (06/11/2025).

Bagi Ki Tikno, kehilangan minat masyarakat bukan sekadar soal hiburan yang berubah. Ia lebih cemas pada pudarnya generasi penerus. “Anak-anak sekarang sudah banyak yang meninggalkan wayang, bahkan memandangnya sebelah mata,” katanya lirih.

Ia sesekali mengajak anaknya yang masih duduk di bangku SMP untuk ikut menabuh gamelan atau membantu mengatur boneka wayang ketika ada pementasan. “Saya ingin dia mengenal dulu, biar tahu asal-usulnya. Tapi ya saya tidak bisa memaksa. Zaman sudah beda,” ucapnya sambil tersenyum kecut.

Bahasa Jawa yang Mulai Terlupa

Sebagai dalang, Sutikno tahu bahwa bahasa Jawa adalah jiwa dari pewayangan. Namun kini, bahasa itu perlahan terpinggirkan, bahkan di sekolah-sekolah.

“Saya lihat anak-anak SD, SMP, SMA di sini sudah jarang menggunakan bahasa Jawa. Murid dan guru pun sering pakai bahasa Indonesia penuh. Padahal dalang hidup dari bahasa, dari pitutur,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah bisa memberi ruang lebih bagi kesenian daerah dalam pendidikan. “Kalau bahasa Jawa dan kesenian tradisi digalakkan lagi di sekolah, mungkin anak-anak bisa tumbuh minatnya. Kalau tidak, wayang bisa punah pelan-pelan,” katanya.

OPTIMISTIS: Potret Ki Tikno di tengah mendalang. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

Pementasan yang Makin Langka

Dulu, Sutikno bisa mendalang tiga hingga empat kali dalam sebulan. Kini, dalam setahun pun belum tentu dua kali. Banyak warga lebih memilih hiburan yang dianggap lebih praktis dan lebih murah. “Wayang itu memang mahal. Sekarang banyak orang lebih suka organ tunggal atau hiburan cepat saji. Murah, ramai, tapi ya isinya tidak ada tuntunan,” ungkapnya.

Untuk menyambung hidup, Sutikno bekerja serabutan di sawah dan proyek bangunan. Ia menolak berhenti mendalang meski tak lagi bisa menggantungkan hidup sepenuhnya dari panggung. “Wayang itu sudah jadi bagian hidup saya. Walau jarang, kalau ada yang manggil, saya siap,” katanya tegas.

Di balik kesederhanaannya, Ki Tikno masih menyimpan keyakinanakan ada generasi yang mau melanjutkan. “Saya berdoa, semoga nanti ada anak muda yang tertarik. Kalau tidak dari keluarga saya, mungkin dari luar desa. Tapi harus punya niat dan cinta pada budaya,” katanya.

Di Hari Wayang Nasional, harapan itu ia ucapkan dengan suara yang pelan tapi pasti. “Untuk generasi muda, mari kita tunjukkan jati diri kita sebagai anak bangsa di tanah Jawa. Uri-uri tradisi kita. Jangan melupakan asal-usul. Boleh modern, tapi jangan hilang akar kita,” pesannya. (iza)