Meski tampak mudah, pekerjaan ini tetap punya tantangan. Naja mengaku masih terkendala alat dan kondisi lingkungan. “HP-ku masih Android biasa, sering noise. Kadang minjem HP temen buat rekaman. Belum lagi kalau pas rekaman ada suara ayam atau tetangga rame,” ceritanya sambil tertawa.
Soal persiapan, Naja punya cara sederhana. Ia selalu berusaha percaya diri, fokus, dan santai sebelum tampil. “Aku nggak punya tips khusus jaga suara. Gorengan tetap aku makan, paling kalau pilek baru minum air anget,” katanya ringan.
Perempuan kelahiran Kudus, 21 Maret 1999 itu juga punya prinsip hidup yang ia pegang kuat, yakni terus bersyukur, hargai waktu, dan jangan berhenti belajar hal baru. Soal cita-cita, ia memilih berjalan sesuai kemampuan. “Yang penting nggak ngebebani orang tua. Selama ini alhamdulillah semua masih bisa dijalani,” ucapnya.
Untuk anak muda yang ingin menapaki jalur serupa, Naja berpesan agar tidak ragu mengasah kemampuan. “Percaya diri aja. Sering latihan public speaking, lihat dan pelajari tokoh yang kamu kagumi, terus jangan takut dikritik. Dari situ kita tahu apa yang harus diperbaiki,” pesannya.
Dari ruang sederhana di Kudus, Falichatun Naja terus menumbuhkan suaranya. Tak hanya merangkai kata, tapi juga menebar semangat bahwa kesungguhan bisa terdengar jauh asal dijalani dengan hati. (iza)










