Jepara  

Tembus 2.083 Kasus! Jepara Siaga DBD Jelang Puncak Musim Hujan

Wakil Ketua Komisi C DPRD Jepara, Imam Subhi. (DOK. PRIBADI/JOGLO JATENG)

Intervensi cepat seperti 3M plus (menguras, menutup, dan mengubur), abatisasi, dan fogging perlu dilakukan segera di wilayah yang terindikasi ssbagai sumber penularan.

Fogging tetap penting dilakukan di area lokasi khusus (lokus) supaya penyebaran nyamuk bisa di cegah,” ujarnya.

Imam berharap, kewaspadaan masyarakat dan pemerintah tidak kendur. Mengingat puncak risiko terjadi hingga awal tahun mendatang.

Di sisi lain, menanggapi kasus DBD yang terjadi di Jepara, Bupati Jepara, Witiarso Utomo, memastikan langkah mitigasi sudah diperketat. Ia menginstruksikan seluruh camat untuk melakukan kerja bakti rutin dan melaporkan perkembangan secara periodik.

“Saya sudah mengarahkan setiap camat untuk melakukan mitigasi banjir dan DBD. Kerja bakti wajib setiap minggu dan harus dilaporkan kepada kami,” kata bupati.

Ia menegaskan bahwa kebersihan lingkungan menjadi kunci utama untuk mencegah dua ancaman sekaligus. Yaitu genangan yang menjadi pemicu banjir dan sarang nyamuk Aedes aegypti. Karena itu, pembersihan saluran air, pengangkatan sampah, dan pemberantasan sarang nyamuk harus dijalankan terstruktur dan berkelanjutan.

Menurutnya, mitigasi bukan hanya soal menghadapi bencana alam. Tetapi juga penyakit yang muncul akibat lingkungan yang tidak terkelola dengan baik. (oka/adf)