ACEH, Joglo Jateng – Nasib kurang beruntung dialami oleh lifter andalan Indonesia, Nurul Akmal. Atlet angkat besi yang telah dua kali mengharumkan nama bangsa di panggung Olimpiade ini harus puas hanya diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) berstatus Paruh Waktu oleh Pemerintah Aceh, Kamis (29/1/2026).
Status ini tentu berbeda jauh dengan rekan-rekan seperjuangannya di kancah nasional, seperti pebulu tangkis Jonatan Christie dan 26 atlet lainnya yang resmi diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada 2023 lalu. Nurul Akmal, perempuan asal Aceh pemegang gelar sarjana pendidikan ini, tak kuasa menyembunyikan rasa kecewanya.
Kabar pengangkatan ini terungkap saat Nurul mengunggah foto dirinya mengenakan seragam Korpri di Banda Aceh. Melalui akun Instagram pribadinya, @nurulakmal_12, ia mencoba tegar meski menyisipkan emotikon sedih.
”Tetap bersyukur walaupun P3K PW (Paruh Waktu). Padahal 2x OLY (Olimpiade), 2x SEA Games, 2x Asian Games, 3x emas PON. Yang tahu-tahu sudah pahamlah, tapi inilah hasilnya,” tulis Nurul dalam unggahannya, Sabtu (31/1/2026).
Pertanyakan Kelayakan Jadi PNS
Nurul Akmal bukan atlet sembarangan. Ia mencetak sejarah sebagai lifter putri pertama Indonesia yang mampu menembus kualifikasi kelas berat di Olimpiade Tokyo 2020 dan kembali tampil di panggung dunia setelahnya. Namun, segudang prestasi itu ternyata belum cukup mengantarkannya menjadi PNS penuh.
”Aku hanya bisa belajar menerima semuanya. Apakah aku tidak pantas untuk mendapatkannya (PNS)?” ujarnya lirih dalam postingan lanjutan.
Nurul mengaku baru mengetahui statusnya masuk dalam kategori paruh waktu sejak November lalu. Awalnya, ia tidak mengikuti seleksi PPPK tahap pertama sehingga dinyatakan tidak lulus. Ia kemudian mengikuti seleksi tahap kedua, namun formasinya saat itu terbatas.
”Jadilah masuk ke paruh waktu. November kemarin dapat paruh waktu dan isi Daftar Riwayat Hidup (DRH) itu di Desember,” jelas atlet kelahiran 12 Februari 1993 tersebut.
Ia mengaku hasil ini di luar ekspektasinya. Terlebih, perjuangannya membawa nama Indonesia di kancah tertinggi olahraga dunia dinilai seharusnya mendapat apresiasi lebih setara.










