KUDUS, Joglo Jateng – Bupati Kudus Sam’ani Intakoris mengajak kalangan mahasiswa dan organisasi kemasyarakatan untuk aktif memberikan kontribusi nyata dalam pembangunan daerah. Ajakan kolaborasi ini menjadi sangat krusial di tengah upaya pemerintah menyiasati tantangan fiskal akibat pemangkasan dana transfer dari pemerintah pusat pada tahun ini.
Pesan tersebut ditekankan Sam’ani saat menggelar kegiatan dialog bersama mahasiswa dalam suasana bulan suci Ramadan di Pendopo Kabupaten Kudus, Minggu (8/3/26).
Sebagai generasi intelektual, mahasiswa didorong tidak hanya fokus pada kegiatan akademik di kampus, tetapi juga harus peka terhadap persoalan riil masyarakat.
”Mahasiswa harus terus berprestasi dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat maupun pemerintah daerah,” ujar Sam’ani.
Tantangan Pemotongan Dana Rp 538 Miliar
Dalam forum diskusi yang terbuka tersebut, Sam’ani membeberkan bahwa kondisi fiskal daerah saat ini tengah menghadapi ujian cukup berat. Pada tahun 2026, Kabupaten Kudus mengalami pemangkasan dana pusat senilai kurang lebih Rp 538 miliar.
”Kondisi itu membuat seluruh organisasi perangkat daerah harus melakukan penyesuaian dan efisiensi anggaran dalam menjalankan program pembangunan,” bebernya.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap berkomitmen mengamankan berbagai program prioritas, seperti penguatan ekonomi, layanan kesehatan, hingga pendidikan berkarakter.
Secara makro, indikator pembangunan di Kudus masih menunjukkan tren positif. Pertumbuhan ekonomi tercatat di angka 2,79 persen, sedangkan angka kemiskinan berhasil ditekan turun dari 7,23 persen menjadi sekitar 6,5 persen.
Lestarikan Budaya Lewat Kamis Sarungan
Selain membahas isu strategis ekonomi dan infrastruktur, momentum pertemuan ini juga dimanfaatkan bupati untuk menyosialisasikan kebijakan kebudayaan terbaru.
Pemerintah Kabupaten Kudus kini tengah menggalakkan program Kamis Sarungan. Kebijakan ini mengajak seluruh elemen masyarakat mengenakan sarung setiap hari Kamis sebagai simbol pelestarian kearifan lokal.
Tidak berhenti di situ, warga dan aparatur juga didorong untuk mengenakan pakaian adat khas Kudus pada tanggal 23 setiap bulannya demi memperkuat identitas kebudayaan daerah.
“Melalui sinergi antara pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat, harapannya pembangunan di Kudus dapat terus berjalan dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkasnya. (adm/fat/rds)










