PURWOREJO, Joglo Jateng – Eskalasi konflik bersenjata di Timur Tengah memaksa Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) bersama Pimpinan Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Purworejo mengeluarkan imbauan resmi agar umat Islam tunda umrah. Kebijakan darurat ini diambil demi menjamin keselamatan jiwa para calon jemaah asal daerah di tengah memanasnya perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel.
Kepala Kantor Kemenhaj Kabupaten Purworejo, Herman Susilo, menegaskan bahwa imbauan penundaan ibadah tersebut merujuk langsung pada instruksi pemerintah pusat. Arahan itu tertuang dalam Surat Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) Nomor: 09519.
Terkait nasib para jemaah umrah Purworejo yang mungkin sedang berada di Tanah Suci, pihak Kemenhaj terus melakukan pemantauan ketat bersama para agen travel.
“Kami mengimbau agar masyarakat yang ingin melaksanakan ibadah umrah, menunda keberangkatan hingga situasi aman kembali. Untuk jamaah asal Kabupaten Purworejo yang tertahan di Timur Tengah, sudah kami share ke teman-teman PPIU (Penyelenggara Perjalanan Ibadah Umrah) agar melaporkan jika ada jamaah yang tertahan,” papar Herman, Senin (9/3/2026).
Hingga saat ini, Kemenhaj belum menerima laporan adanya jemaah lokal yang terjebak akibat konflik tersebut, dan memastikan semuanya dalam kondisi aman. Ia juga berharap agar situasi global segera normal kembali sehingga ibadah haji tahun 1447 H beberapa bulan mendatang bisa terlaksana dengan lancar.
Muhammadiyah Sarankan Alihkan Dana Umrah
Menyikapi imbas perang Timur Tengah yang semakin mengkhawatirkan, Ketua PD Muhammadiyah Purworejo, H Pudjiono, menyuarakan instruksi senada kepada seluruh warga dan simpatisan persyarikatan untuk sementara menunda keinginan ke Tanah Suci.
“Karena, puasa yang paling berat adalah mengendalikan hawa nafsu tak terkecuali nafsu untuk menguasai wilayah, negara, etnis, dan bangsa lain yang dilakukan dengan melanggar HAM dan juga melanggar kedaulatan negara,” kata Pudji.
Pudjiono sangat berharap para pemimpin negara di Timur Tengah, khususnya Arab Saudi, mampu menjaga stabilitas keamanan bagi umat Islam yang sedang menunaikan ibadah umrah maupun haji mendatang.
Lebih lanjut, ia memberikan penekanan khusus bagi masyarakat yang mengejar keutamaan beribadah di Masjidil Haram pada penghujung bulan puasa ini. Menurutnya, memaksakan diri berangkat saat ini hanya akan berdampak pada kesalehan pribadi.
“Bagi yang ingin melaksanakan ibadah umrah di Masjidil Haram pada akhir bulan Ramadan yang diyakini pahalanya akan dilipatgandakan ribuan kali, sekali lagi kami imbau ditunda,” ungkapnya.
Sebagai solusi bernilai pahala tinggi, ia menyarankan agar biaya umrah tersebut sebaiknya dialihkan untuk membantu sesama yang lebih membutuhkan, sebagai wujud nyata dari kesalehan sosial.
“Artinya, jika biaya umrah bisa dialihkan untuk membantu saudara-saudara kita yang lebih membutuhkan dan itu lebih utama. Sebagaimana hadis Nabi, khairunnas anfa’uhum linnas, yang artinya sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk orang lain, termasuk harta kita,” tegasnya. (mrn/amd/rds)










