JEPARA, Joglo Jateng – Ribuan jemaat Gereja Injili di Tanah Jawa (GITJ) Margokerto, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara kembali menggelar tradisi Pawai Subuh Suci Paskah, Minggu (5/4/2026) dini hari. Ritual keagamaan yang telah dirawat selama hampir tiga dekade ini menjadi wujud nyata toleransi dan kerukunan lintas generasi di kawasan pesisir utara Jawa.
Sejak pukul 03.30 WIB, ribuan jemaat dari berbagai kelompok usia mulai dari anak sekolah minggu hingga dewasa tampak antusias berkumpul di depan gereja. Dengan membawa obor, lilin, dan lampion, mereka berjalan mengelilingi wilayah Padukuhan Margokerto sembari melantunkan puji-pujian.
Suasana hening khas dini hari berpadu dengan cahaya ratusan lampu tersebut menciptakan nuansa sakral yang kental. Prosesi ini menjadi simbol perayaan kebangkitan Yesus Kristus sekaligus refleksi iman di tengah masyarakat.
Pendeta Tri Atmono memimpin langsung doa pembuka sebelum pawai dimulai. Rangkaian perayaan kemudian ditutup dengan ibadah di halaman belakang gereja yang mengangkat tema Menang Tanpa Perang dari kitab Roma 6:9-10.
Ketua Umum Majelis GITJ Margokerto, Eko Prasetyo mengatakan tradisi ini terus dipertahankan karena sarat akan nilai spiritual dan sosial yang tinggi.
“Harapan kami, kegiatan ini membawa semangat baru dalam pelayanan, mempererat persekutuan, dan mendorong kreativitas sebagai bentuk kesaksian, baik bagi warga sekitar maupun luar daerah,” ujarnya, belum lama ini.
Sejarah Tradisi Sejak 1988
Rangkaian hari suci tersebut juga diisi dengan pembagian telur Paskah di Jepara, makan bersama, hingga pemberian hadiah bagi peserta pawai terbaik. Momentum ini semakin memperkuat relasi sosial antarjemaat usai menjalani rangkaian ibadah Jumat Agung dan Perjamuan Kudus.
Secara historis, jemaat GITJ Margokerto merupakan salah satu jemaat tertua di kawasan Jepara. Gereja ini berdiri sejak tahun 1901 oleh Guru Injil Esrom bersama tujuh rekan perintisnya.
“Sementara tradisi Pawai Subuh Suci sendiri mulai digelar pada 1988, awalnya hanya diikuti anak-anak sekolah minggu,” terang Pendeta Tri Atmono.
Seiring berjalannya waktu, perayaan komunal yang kini diikuti oleh sekitar 2.300 jiwa itu terus berkembang pesat.
Transformasi tradisi Paskah lokal berbasis iman ini menjadi bukti nyata bahwa kegiatan keagamaan mampu menjadi perekat sosial yang hidup dan terus relevan di tengah modernisasi zaman. (oka/gih/rds)










