Jepara  

Atasi Lahan Kritis, Pemkab Jepara Tanam 300 Bibit Pohon di Lereng Muria

PEDULI: Aksi penanaman pohon buah untuk menekan laju pertumbuhan lahan kritis di wilayah Lereng Muria, tepatnya di Dukuh Suwengen, Desa Somosari, Kecamatan Batealit, Kabupaten Jepara, Jumat (24/4/2026). (HUMAS/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jepara mengambil langkah taktis untuk menyelamatkan kawasan Lereng Muria dari ancaman bencana. Sebanyak 300 bibit pohon buah ditanam di Dukuh Suwengen, Desa Somosari, Kecamatan Batealit, pada Jumat (24/4/2026).

Gerakan penghijauan bertajuk program Jepara Menanam Jilid II Tahun 2026 ini merupakan upaya nyata menekan laju kerusakan ekologi. Kondisi kawasan tersebut kini menjadi sorotan karena meluasnya area lahan kritis yang sangat rawan memicu tanah longsor.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Jepara, Rini Padmini, mengungkapkan fakta memprihatinkan terkait kondisi alam di wilayah tersebut.

“Di Desa Somosari sendiri, tercatat terdapat lahan kritis seluas 217 hektare. Melalui program ini, diharapkan dapat menjadi upaya penyelamatan lingkungan, menjaga keberlangsungan sumber mata air, serta sebagai langkah mitigasi terhadap potensi bencana longsor,” terang Rini.

Target Masif 3,2 Juta Pohon

Untuk mengatasi krisis lahan tersebut, pemerintah tidak main-main. Bersama masyarakat, mereka telah menyepakati target masif berupa penanaman 800 ribu bibit setiap tahunnya.

Total 3,2 juta pohon ditargetkan akan menghijaukan wilayah tersebut dalam kurun waktu empat tahun ke depan. Program ini dipastikan akan menjadi agenda tahunan.

Berbagai jenis komoditas disiapkan melalui persemaian internal DLH dan hasil kolaborasi lintas sektor. Bibit yang dipilih bukan hanya tanaman keras pelindung seperti sengon, ketapang, tabebuya, dan cemara laut, melainkan juga jenis tanaman berdaya jual.

Beberapa jenis pohon buah yang turut ditanam meliputi alpukat, nangka, durian, mangga, matoa, hingga sukun.

Ekologi Berpadu Nilai Ekonomi

Dalam kesempatan yang sama, Staf Ahli Bupati Bidang Ekonomi dan Keuangan, Farikhah Elida, mengapresiasi tingginya partisipasi warga Desa Somosari dalam merawat alam. Ia menekankan bahwa penghijauan harus menjadi budaya yang berkelanjutan.

“Untuk seluruh elemen masyarakat, mari kita jadikan menanam sebagai gaya hidup. Jangan hanya semangat saat menanam, tetapi lebih semangat lagi dalam merawat,” pesannya.

Elida menyebut, pemilihan varietas tanaman buah memiliki tujuan ganda yang saling menguntungkan. Selain akar pohon berfungsi menahan erosi dan menyelamatkan sumber mata air, warga yang telaten merawatnya akan memanen hasil di kemudian hari.

“Sehingga yang merawat bisa mendapatkan nilai ekonomi. Jadi manfaatnya tidak hanya untuk lingkungan, tetapi juga untuk masyarakat,” pungkasnya. (oka/gih/rds)