Jepara  

Hanya Tersisa 4 Perakit, Persiapan Ratusan Obor untuk Tradisi Perang Obor Jepara Dikebut

KETERANGAN: Ratusan obor saat disusun untuk persiapan tradisi perang obor di Halaman Balai Desa Tegalsambi, Selasa (28/4/2026). (LIA BAROKATUS SOLIKAH/JOGLO JATENG)

JEPARA, Joglo Jateng – Persiapan menjelang gelaran Tradisi Perang Obor Jepara di Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan, mulai dikebut oleh warga setempat. Ratusan obor tengah dirakit untuk memeriahkan puncak tradisi sedekah bumi yang akan berlangsung pada 25 Mei 2026 mendatang.

Di balik kemeriahan budaya ini, terselip tantangan pelestarian karena bahan baku yang semakin langka dan krisis regenerasi perakit. Saat ini, kelangsungan tradisi tersebut sangat bergantung pada tenaga empat orang perakit yang tersisa.

Seksi perlengkapan acara, Muhammad Sholihin, mengatakan bahan utama berupa pelepah kelapa kering (blarak) dan daun pisang kering (klaras) telah dikumpulkan dari berbagai desa sejak sebelum bulan puasa.

Bahan-bahan tersebut didatangkan dari kawasan Bangsri, Pakis Aji, Mlonggo, Suwawal, Guyangan, Nglebak, hingga Bulungan.

“Pengumpulan bahan sudah dilakukan jauh hari sebelum puasa. Karena memang sekarang bahan cukup sulit didapat,” kata Sholihin saat ditemui di Balai Desa Tegalsambi, Selasa (28/4/2026).

Krisis Perakit Obor

Sholihin menyebut, sebanyak 400 lebih ikat obor disiapkan untuk dimainkan oleh sekitar 40 peserta Perang Obor Tegalsambi.

“Setiap obor dibuat sepanjang kurang lebih 3 meter, satu obor menggunakan dua ikat blarak,” sebutnya.

Ia mengakui, tantangan terberat saat ini adalah minimnya generasi penerus yang memiliki keahlian merakit. Saat ini, hanya tersisa empat orang perakit, yakni Sumadi, Sholeh, Solikul, dan Mbah Haji Karnawi.

“Generasi pembuatnya sudah hampir tidak ada. Jadi masih bergantung pada perakit lama,” ujarnya.

Proses perakitan ditargetkan rampung maksimal pada 20 Mei mendatang. Salah satu perakit obor, Solihul (67), mengaku telah melestarikan pembuatan alat tradisi ini selama lebih dari 47 tahun.

“Sudah puluhan tahun ikut. Sehari bisa bikin sekitar 35 ikat,” katanya.

Rangkaian Tradisi dan Filosofi Kerbau

Rangkaian tradisi ini diawali dengan ziarah ke makam leluhur desa yang tersebar di delapan titik secara bertahap. Selanjutnya, warga menyiapkan uborampe, termasuk menyertakan seekor kerbau jantan dengan syarat khusus.

Kerbau yang dipilih tidak boleh cacat, belum pernah dikawinkan, dan belum pernah dipekerjakan. Filosofi pemilihan kerbau ini merupakan doa agar generasi muda tetap bersemangat dan tidak mewarisi sifat kebodohan.

Sehari sebelum puncak acara, masyarakat akan menggelar karnaval budaya. Adapun puncak tradisi perang obor akan dilangsungkan pada malam Selasa Zulhijah, bertepatan dengan Senin Pahing pada 25 Mei 2026. (oka/gih/rds)