Ia menekankan, penyelesaian persoalan tersebut tidak dapat dibebankan kepada aparat penegak hukum semata. Melainkan, membutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat.
“Ini adalah bentuk silaturahmi, kolaborasi, dan koordinasi dalam menjaga Kudus tetap solid, tetap guyub, dan tetap memiliki semangat kebersamaan,” katanya.
Ia menambahkan, keluarga, sekolah, pemerintah, serta tokoh agama harus berjalan beriringan dalam memberikan pembinaan kepada generasi muda.
Hal itu dilakukan agar mereka tidak terjerumus ke dalam perilaku negatif.
Sementara itu, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kudus, Andrias Wahyu Adi Setiawan, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut dilatarbelakangi fenomena meningkatnya kenakalan remaja yang ditemukan di lapangan.
Melalui pembinaan ini, para pelajar dibekali pemahaman tentang bahaya kekerasan, intoleransi, perundungan, serta pentingnya menjaga kerukunan dan etika sosial.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari tokoh lintas agama, FKUB, Kesbangpol, dan unsur kepolisian.
Pada kesempatan itu, pihaknya mengajak peserta membangun komitmen bersama untuk menolak segala bentuk intoleransi dan kekerasan.
“Pemkab Kudus berharap para pelajar dapat menjadi pelopor perdamaian yang mampu mencegah konflik, dan mengajak teman-temannya menjauhi kenakalan remaja,” ujar Andrias.
“Serta menjaga Kudus tetap sebagai daerah yang aman, damai, dan harmonis,” imbuhnya. (uma/fat/rds)










