Fenomena serupa juga terjadi di Kota Semarang.
SD Negeri Wonodri hanya menerima delapan murid baru pada SPMB Tahun Ajaran 2026/2027, turun hampir separuh dibanding tahun sebelumnya.
Berdasarkan hasil seleksi SPMB yang diumumkan pada Juni lalu, SDN Purwoyoso 01 juga hanya memperoleh lima murid baru.
Selain itu, sejumlah sekolah lain seperti SDN Karangidul, SDN Petompon 03, SDN Karangrejo 02, dan SDN Jatirejo tercatat menerima kurang dari 10 siswa baru.
Kepala SD Negeri Wonodri, Siti Markamah, mengatakan penurunan jumlah pendaftar lebih dipengaruhi perubahan demografi masyarakat dibanding kualitas layanan sekolah.
Menurutnya, kawasan sekitar sekolah kini didominasi permukiman lama yang sebagian besar penghuninya tidak lagi memiliki anak usia sekolah dasar.
“Kalau saya melihat mungkin ini faktor domisili. Di sini kebanyakan sudah tidak usia sekolah sehingga tidak punya anak-anak untuk sekolah. Di sini juga banyak kos-kosan mahasiswa,” ujarnya.
Ia mengatakan kondisi tersebut menjadi tantangan bagi sekolah untuk terus meningkatkan daya tarik melalui berbagai program unggulan.
Kondisi serupa juga terjadi di Kota Solo.
Dari total 117 SD negeri, sedikitnya delapan sekolah memperoleh kurang dari 10 pendaftar.
SDN Tegalayu dan SDN Sawahan 2 menjadi sekolah dengan jumlah pendaftar paling sedikit, masing-masing hanya lima siswa.
Disusul SDN Jajar dan SDN Kauman yang memperoleh enam pendaftar, SDN Munggung 2 dan SDN Sumber 1 masing-masing delapan pendaftar.
Serta SDN Pajang 2 dan SDN Sumber 3 yang memperoleh sembilan pendaftar.
Di Kota Magelang, sebanyak 12 SD negeri juga mengalami kekurangan murid baru.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Magelang, Nurwiyono Slamet Nugroho, mengatakan sebagian besar sekolah hanya memperoleh kurang dari 15 siswa.
Jumlah ini jauh di bawah jumlah ideal satu rombongan belajar yang mencapai 28 anak.
Persoalan yang lebih berat terjadi di Kabupaten Grobogan.
Pada pelaksanaan SPMB tahun ini, empat SD negeri tidak memperoleh murid baru sama sekali, yakni SDN 4 Dimoro, SDN 3 Juworo, SDN 3 Prigi, dan SD Pesantren Unggulan Miftahus Saadah.
Selain itu, Dinas Pendidikan Grobogan mencatat sebanyak 74 SD hanya memperoleh kurang dari 10 murid baru, sedangkan 18 sekolah menerima kurang dari lima siswa.
Kepala Bidang Pembinaan SD Disdik Grobogan, M. Irfan, mengatakan kondisi tersebut dipengaruhi berbagai faktor.
Mulai dari menurunnya jumlah anak usia sekolah, lokasi sekolah yang relatif terpencil, hingga meningkatnya minat masyarakat menyekolahkan anak ke sekolah swasta.
Meski demikian, pihaknya belum berencana menutup sekolah-sekolah tersebut.
Sekolah yang masih kekurangan murid tetap diperbolehkan membuka pendaftaran secara langsung, sementara sebagian lainnya disiapkan untuk regrouping. (uma/hfh/ara/iza/rds)










